NC, Sejarah - Tahun 1888 merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi rakyat Banten, dimana terjadi gerakan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, yang telah berkuasa sampai ratusan tahun, dan peristiwa bersejarah tersebut saat ini lebih dikenal dengan Peristiwa Geger Cilegon.
Peristiwa tersebut sebenarnya berawal dari keinginan warga Banten untuk merdeka dari cengkeraman penjajahan Belanda.
Berdasarkan data sejarah yang penulis ketemukan, dapat disimpulkan bahwa gerakan yang dipimpin oleh para kiyai tersebut telah dimusyawarahkan, namun akhirnya peristiwa itu meletus lebih cepat dari waktu yang telah direncanakan.
Hal ini disebabkan karena Asisten Residen Gubbels telah mengeluarkan kebijakan yang menyinggung umat Islam. Dimana ia melarang Haji Makid agar tidak lagi mengalunkan suara adzan dari atas menara yang ada didepan musholah miliknya. Sedangkan lokasi menara tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman Gubbels.
Karena istri Gubbels merasa terganggu dengan suara adzan yang dilantunkan sehari lima kali itu, maka Gubbels pun melarang aktifitas keagamaan yang dilakukan oleh Haji Makid tersebut.
Mungkin banyak di antara kita yang telah melupakan Haji Makid. Untuk diketahui bahwa Haji Makib adalah seorang kiyai yang tinggal di Jombang Wetan, tentu saja ia juga merupakan salah satu tokoh dari peristiwa perlawanan tersebut.
Haji Makid juga merupakan kiyai yang cukup disegani pada masa itu dan memiliki murid yang cukup banyak. Oleh karenanya ketika Gubbels melarang kegiatan keagamaan, terlebih lagi itu dilakukan dengan kata-kata kasar yang sangat menyinggung perasaannya, maka masyarakat sekitar Cilegon dan Bojonegara ikut marah, dan meletuslah peristiwa Geger Cilegon itu.
Selang sehari peristiwa tersebut, Haji Makid ditangkap oleh Belanda, dan didakwa telah memprofokasi masa, yang kemudian melakukan terhadap Belanda. Maka Haji Makid di buang ke pulau Banda sebagai hukuman dan sekaligus memupuskan semangat perlawanan masyarakat Cilegon.
Ada pun bukti perjuangan Haji makib, berupa peninggalan kitab-kitabnya, sampai kini masih tersimpan rapih serta dirawat baik oleh anak cucunya ditempat pembuangannya. Bahkan ada sorban dan jubah yang sampai sekarang masih dipakai oleh mempelai pria pada saat melaksanakan perkawinan.
Penulis berharap dengan penulisan kisah sejarah dari Haji Makid melelalui News Cilegon ini, semangat akan perjuangan atas perebutan kemerdekaan di kota baja ini terus di ingat.
Penulis. : Bambang Irawan
Editor. : Dede Irawan


Post a Comment