NC, Sejarah - Cerita tentang adanya Perang Sambel telah membuat saya (penulis) semakin penasaran ingin mengetahui seperti apa kisah itu sebenarnya. Sebab sejak penulis masih kanak-kanak sampai sekarang cerita itu masih saja terdengar. Namun sayangnya cerita perang yang menggunakan amunisi dari bumbu dapur itu cukup sulit mencari sumbernya.
Adapun kisah tentang Perang Sambel ini merupakan cerita turun temurun dari generasi ke generasi disebagian kalangan masyarakat Cilegon. Oleh karenanya hal tersebut dapat diyakini bahwa dimasa lalu memang peristiwa itu pernah terjadi, karena cerita itu mampu berkembang dimasyarakat sampai sekian lama.
Namun sayangnya, cerita yang didapatkan oleh penulis hanya setengah-setengah dan tidak utuh, bagaimana kejadiannya masih samar-samar. Cerita kakek saya, katanya ketika terjadi perang melawan Belanda dulu, ramai-ramai membuat sambel. Dan ketika serdadu Belanda sedang lengah kemudian matanya diraupi sambel.
Dengan begitu serdadu Belanda tidak sempat menggunakan senjatanya dengan baik. Maka tentu saja, dalam keadaan seperti itu mereka sulit melawan. Sehingga sekalipun mempunyai persenjataan yang cukup tapi dapat dikalahkan walau pun akhirnya Belanda dapat merebut kembali wilayah yang sudah diduduki.
Cerita diatas memang masih perlu dikaji lagi, karena memang tidak diketemukan data-data sejarah yang menceritakan kejadian tersebut. Namun dalam catatan sejarah Geger Cilegon 1888 diketemukan informasi yang menceritakan tentang perkelahian antara Anna van Zuptent dengan Nyi Kamsidah.
Saat itu Cilegon sedang dikepung oleh para pemberontak dibawah pimpinan para kiyai, sementara itu istri asisten residen, Anna van Zuptent, sedang berusaha menyelamatkan diri. Ia mendatangi desa Saneja untuk mencari sado dan tujuannya akan ke Serang.
Namun malang, bukan sado yang didapat, disana malah dirinya bertemu dengan Nyi Kamsidah, istri Haji Iskak. Begitu melihat istri pejabat pemerintah kolonial Belanda itu memasuki wilayahnya, Nyi Kamsidah pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Kebetulan pada saat itu Nyi Kamsidah sedang membuat sambel untuk makan orang-orang yang sedang berperang bersama-sama dengan suaminya. Secara reflek Ia pun mengejar kearah istri asisten residen dan menaburkan sambel ke wajahnya. Terjadilah perkelahian yang seru antara kedua ibu rumah tangga itu.
Dan sekalipun postur tubuh Anna van Zuptent dua kali lipat lebih tinggi dan lebih besar dari Nyi Kamsidah, karena kedua matanya sudah terkena sambel tentu saja perkelahian jadi tidak seimbang. Sehingga istri asisten residen pun meregang nyawa setelah mendapat hantaman bertubi-tubi dari dari istri salah seorang pimpinan Geger Cilegon tersebut.
Sekalipun cerita tentang Perang Sambel ini tidak ditunjang oleh catatan sejarah, namun penulis sengaja mengangkat kisah ini agar generasi mendatang dapat mengetahuinya, karena faktanya memang pada waktu itu para pejuang dapat mengalahkan Belanda sekalipun tidak memiliki persenjataan seperti yang dimiliki oleh pihak lawan.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment