NC, Sejarah - Kampung Gudang adalah sebuah nama tempat yang berada di wilayah kelurahan Jombang Wetan, kecamatan Jombang, kota Cilegon. Sebenarnya pada masa lalu seluruh wilayah yang lokasinya berada disekitar pusat kota Cilegon itu dinamakan wilayah Jombang.
Dan seiring dengan berjalannya waktu, kemudian wilayah Jombang itu terbagi kedalam beberapa penyebutan nama, sesuai dengan keadaan di wilayah tersebut. Misalnya saja Jombang Masjid, karena di wilayah itu terdapat sebuah masjid, yang pada masa lalu merupakan satu-satunya mesjid yang ada di Cilegon.
Selain dari itu ada juga nama Jombang Tangsi dan Jombang kali. Disebut Jombang Tangsi karena lokasinya berdekatan dengan asrama polisi atau pada masa itu disebut tangsi, sedangkan dinamakan Jombang Kali karena disebelah baratnya dibatasi oleh sebuah kali atau sungai.
Begitu juga dengan nama Kampung Gudang, tentu saja penyebutan nama itu juga tidak lepas dari keberadaan sebuah gudang. Dahulu disana ada gudang uyah, atau gudang tempat penimbunan garam. Garam adalah salah satu keperluan dapur yang nampaknya sepele dan kurang berarti. Padahal kalau tidak ada garam semua masakan terasa hambar dan kurang enak.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, masalah garam juga sudah menjadi perhatian utama. Terbukti dengan adanya satu jabatan dibirokrasi pemerintahan yang khusus mengurusi masalah garam.
Ketika peristiwa Geger Cilegon meletus pada tanggal 9 Juli 1888, Kepala Penjualan Garam juga turut menjadi korban. Bahkan uang dari hasil penjualan garam pun dirampas dan dipakai untuk membiayai gerakan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah Belanda pada masa itu.
Pada saat itu yang menjabat sebagai kepala penjualan garam adalah Ulrich Bachet, yang tewas dibantai oleh para pemberontak. Ketika itu Bachet sedang berupaya menyelamatkankan diri dan bersembunyi di rumah Ramidin di kampung yang letaknya di belakang rumah Bachet.
Penggeledahan di rumah itu dipimpin oleh Haji Usman dari Tunggak. Ketika para pemberontak mendobrak rumah Ramidin, Bachet melompat dan mengacungnya pistolnya ke arah penyerangnya. Dan ia melepaskan tembakan yang menewaskan Sadik dari Pecek dan tembakan lainnya mengenai mata Kimbu dari Beji.
Namun sekalipun ditangannya memegang pistol, akhirnya Bachet tewas juga ditangan para pemberontak. Sedangkan kedua anaknya dapat meloloskan diri dan dapat selamat ketika mereka menyatakan diri masuk Islam, serta bersedia membaca dua kalimat syahadat disaksikan oleh Haji Mahmud dari Terate Udik.
Semoga dengan diangkatnya kisah sejarah ini, penulis berharap akan menggugah generasi mendatang untuk mencintai sejarahnya sendiri serta akan mempunyai keperdulian tentang catatan sejarah besar bangsa Indonesia yang terlupakan ini. Amin.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment