NC, Sejarah - Pasar Cilegon pada masa lalu dinamakan Pasar Jombang, karena pada waktu itu lokasinya berada di wilayah Jombang Wetan. Kemudian diawal tahun duaribuan pasar tersebut dipindahkan ke Pegantungan, sementara diatas lokasi bekas pasar itu dibangun gedung perbelanjaan Matahari.
Namun pusat perbelanjaan itu pun akhirnya pindah ke Super Mall yang lokasinya di Simpang Tiga. Begitu juga dengan pasar baru Pegantungan, kemudian dipindahkan ke Lingkungan Kranggot, sehingga sekarang orang lebih mengenal pasar Kranggot ketimbang pasar Jombang yang merupakan saksi bisu dari sebuah peristiwa berdarah di Cilegon.
Pada saat peristiwa Geger Cilegon meletus tahun 1888, pasar Jombang banyak menyimpan catatan sejarah. Sebab dari serangkaian kejadian pada masa itu semuanya berawal bahkan ditentukan serta dikendalikan dari tempat tersebut.
Mulai dari musyawarah mengenai rencana dan pematangan penyerangan sampai pada saat para pemberontak mulai melakukan gerakan, semua aktifitas itu dilaksanakan disekitar pasar tersebut. Bahkan tempat itulah yang menjadi markas perlawanan dan sekaligus merupakan pusat komando perlawanan rakyat Banten yang dipimpin oleh para kiyai.
Dari lokasi yang (sekarang) posisinya berada tepat dibelakang toko Pulau Indah, para pemberontak berkumpul yang kemudian mengadakan kegiatan arak-arakan dan berakhir sampai di sekitar pintu kereta Pagebangan.
Arak-arakan yang merupakan kamuflase dengan tujuan mengelabui pihak Belanda itu berlangsung hingga malam hari. Dan keesokan paginya, sekelompok pasukan pemberontak berdatangan dari berbagai penjuru yang ada di sekitar Cilegon.
Sepasukan pemberontak yang berasal dari bagian selatan Cilegon dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman dari Arjawinangun. Mereka menutupi sebagian mukanya dengan kain putih sembari meneriakan pekik Sabilillah sebagai pertanda genderang perang sedang ditabuh.
Disusul dengan gerombolan yang datang dari utara dipimpin oleh Haji Wasid, Kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Nasiman dari Kaligandu. Mereka bergabung dengan kelompok lainnya, berkumpul di gardu pasar Jombang, yang sekarang lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Lampu Merah Matahari Lama.
Dari sana, tepat pukul tujuh mereka bergerak menyerang tempat yang sudah ditentukan, yaitu penjara yang sekarang menjadi SMP Negeri 1, gedung Kepatihan yang lokasinya di bekas gedung bioskop Nirwana atau disekitar Sarinas Jaya dan rumah Asisten Residen yang sekarang menjadi pusat pertokoan Join In.
Pada hari itu pihak Belanda benar-benar kecolongan. Mereka sama sekali tidak mengetahui akan adanya serangan mendadak seperti itu sehingga mengakibatkan seluruh pejabatnya tewas. Padahal gerakan sebesar itu seharusnya terdeteksi dan dapat diantisipasi oleh pemerintah Belanda.
Akan tetapi, mungkin karena selama ratusan tahun tidak pernah ada gerakan pemberontakan seperti itu sehingga wajar jika pemerintah kolonial Belanda tidak menyangka akan terjadi gerakan seperti ini. Sebuah peristiwa yang benar pernah terjadi disepanjang sejarah penjajahan bangsa Eropa dibumi nusantara yang sekian lama nyaris tidak pernah ada pemberontakan dari rakyat.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment