NC, Sejarah - Ketika masa kanak-kanak, saya (penulis) sangat senang mendengarkan cerita atau dongeng dari orang tua sebelum tidur. Banyak hal yang diceritakan oleh nenek kepada saya, dari cerita mitos Dampu Awang sampai meletusnya gunung Krakatau.
Namun yang paling dirindukan adalah cerita tentang kakeknya (buyut) yang digantung oleh Belanda. Terlebih lagi pada saat saya mulai menggali sejarah Geger Cilegon karena, ternyata digantungnya buyut saya itu berkaitan dengan peristiwa Geger Cilegon yang terjadi pada tahun 1888.
Entah ada hubungannya atau tidak dengan cerita nenek, akhirnya saya terpanggil untuk menggali dan mengangkat kisah sejarah yang telah terkubur dan hampir punah ini. Andai saja keinginan menggali sejarah ini timbul pada saat nenek masih hidup, tentu akan lebih lengkap informasi yang didapatkan.
Banyak data-data sejarah yang diketemukan dari situs internet dalam bahasa Belanda. Andai nenek masih ada tentu akan lebih mudah bagi saya, karena nenek sangat pandai berbahasa Belanda. Tapi semua itu telah berlalu, dan untuk mengenangnya saya menulis kisah dengan judul diatas.
Lima tahun sebelum meletus peristiwa Geger Cilegon, terjadi sebuah bencana alam besar, yaitu meletusnya gunung Krakatau. Dimana kejadian itu merupakan letusan yang paling hebat yang pernah tercatat dalam sejarah vulkanologi di Indonesia.
Dari kejadian itu berdampak pada kesengsaraan rakyat dan menimbulkan gejolak sosial. Oleh karenanya dapat dimaklumi, jika menurut cerita yang berkembang bahwa pecahnya Geger Cilegon itu salah satu pemicunya adalah meletusnya gunung Krakatau.
Karena letusannya sangat dahsyat banyak desa-desa yang tadinya makmur menjadi hancur. Dan sawah-sawah yang subur berubah menjadi tanah yang gersang. Banyak ternak yang mati dan ladang menjadi tandus sehingga tidak dapat ditanami sampai bertahun-tahun.
Beberapa saat sebelum Krakatau meletus, tiba-tiba air laut menjadi surut dan banyak ikan yang bergeleparan. Tentu saja kesempatan seperti itu tidak disia-siakan oleh warga yang berada disekitar pantai. Mereka turun beramai-ramai memunguti ikan-ikan yang berserakan tanpa harus bersusah payah menebarkan jaring atau melempar pancing.
Namun air laut yang tadinya surut mendadak datang seiring dengan gelombang yang teramat besar bukan kepalang. Menenggelamkan apa saja yang ada dipesisir, bahkan gelombang air itu tak berhenti ditepi pantai namun terus bergulung mendorong sampai ke lereng gunung. Tak ada yang sempat menyelamatkan diri, semua habis disapu gelombang tsunami dan menelan korban lebih dari 20.000 orang.
Anyar terendam air laut sampai setinggi pohon kelapa, desa-desa disekitarnya hancur tergusur oleh air bah yang melimpah ruah tak terkira. Namun beruntung bagi masyarakat yang tinggal di Cilegon, sebab hanya sisa air saja yang sampai kesana. Karena struktur tanahnya bergelombang kemudian air laut itu pun menggenang dibeberapa tempat yang ada di Cilegon.
Menurut cerita nenek, air yang menggenang itu dalam bahasa sunda disebut "cai ngalegon". Kemudian tempat itu dikenal dengan sebutan Cilegon. Akan tetapi untuk kebenaran dari semua cerit itu saya harus menggali informasi itu lebih jauh lagi tempatnya agar apa yang diceritakan nenek itu mendekati kebenaran.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment