close


Judul dalam tulisan ini memang sengaja didramatisir, dengan maksud untuk menggugah rasa keingintahuan sehingga orang tertarik untuk membacanya. Mengapa demikian...? Karena memang peristiwa yang terjadi pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 ini tidak cukup menarik perhatian khalayak. Padahal peristiwa sejarah ini merupakan satu-satunya gerakan perlawanan bangsa Indonesia, bahkan yang terbesar sepanjang sejarah pemerintahan kolonial Belanda yang berlangsung sampai ratusan tahun. Dan karena peristiwa ini merupakan sebuah gerakan perlawanan terbesar, sampai-sampai pemerintah pusat (Hindia Belanda) di Batavia (Jakarta) pun menurunkan tim investigasinya, untuk menyelidiki mengapa peristiwa sedahsyat itu bisa terjadi dan tidak terdeteksi sama sekali.

Cukup mengherankan, ketika sebuah peristiwa yang sangat menggegerkan dan sempat membuat kalangan orang-orang Eropa, baik yang ada di pulau Jawa maupun ditempat yang jauh, mereka dihantui oleh rasa ketakutan yang teramat sangat, selain dari itu beritanya menggemparkan media internasional pada masa itu, tapi kok bisa meletus secara tiba-tiba dan mengejutkan. Padahal peperangan yang dipimpin oleh para kiyai dari seantero wilayah Banten ini adalah merupakan gerakan perlawanan yang terstruktur dan terkoordinir dengan baik. Yang mana kegiatan seperti itu seharusnya sulit terhindar dari pantauan pihak Belanda, karena pada masa itu mata-mata Belanda memang ada dimana-mana. Sebenarnya hal seperti ini adalah sesuatu yang sangat mustahil dan sulit diterima akal, tapi inilah fakta sejarah yang tak bisa disembunyikan. Dimana para kiyai pada masa itu dapat mengkoordinir masa dengan jumlah besar serta mampu mengatur strategi perang tingkat tinggi, sehingga seluruh jajaran pejabat pemerintahan kolonial Belanda kecolongan dan habis dibantai, bahkan beserta beberapa anggota keluarganya. Karena peristiwa ini telah menarik perhatian dan menjadi perbincangan luas serta timbul berbagai spekulasi dikalangan pers, kemudian ditunjuklah Direktur Departemen Dalam Negeri, J. M van Vleuten untuk melakukan penyelidikan umum mengenai situasi umum di Banten yang berkenaan dengan asal mula serta sebab musabab terjadinya peristiwa itu.

J. M van Vlueten diangkat sebagai Komisaris Pemerintah, seminggu berselang dari terjadinya peristiwa itu ia mulai melakukan penyelidikan diseluruh daerah Banten untuk mengumpulkan bukti dan data-data, dan sekitar dua bulan kemudian laporannya dikeluarkan berupa sebuah dokumen yang tebal, terdiri dari 200 halaman tertulis, tapi belum termasuk sekian banyak dokumen lain yang menyertai laporannya. Oleh karenanya,diakui atau tidak bahwa inilah satu-satunya catatan kejadian yang memiliki data-data dan informasi sejarah yang paling lengkap, detil dan akurat dibandingkan dengan peristiwa sejarah lainnya. Tapi ironisnya jarang orang yang mengetahui akan hal ini, bahkan kisah sejarah ini malah terkubur dan terlupakan.

Ketika pemerintah pusat mendengar kabar bahwa diwilayah Banten sedang terjadi kerusuhan, bantuan pasukan militer pun diberangkatkan menuju pelabuhan Karangantu. Kemudian para tentara Belanda itu pun melakukan patroli ke setiap penjuru kota Serang, sementara para pejuang yang telah siaga untuk menyerang Serang tidak bisa berbuat banyak. Mereka menunggu instruksi dari panglima tertinggi, yang waktu itu masih menyelesaikan tugasnya untuk menguasai Cilegon. Merebut Cilegon terlebih dahulu adalah merupakan taktik dan strategi yang dimiliki oleh para kiyai pada waktu itu. Dengan dikuasanyai Cilegon yang merupakan ibu kota afdeling Anyar, sama halnya dengan menguasai sebagian wilayah Banten sehingga untuk merebut ibu kota karesidenan Banten, yaitu Serang, akan lebih mudah dilakukan. Dan jika itu terjadi maka Banten akan berdiri sendiri terlepas dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi sekalipun pun upaya ini tidak berhasil, namun harus diakui bahwa peristiwa ini adalah cikal bakal dari perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya, karena perlawanan seperti ini adalah merupakan kejadian yang pertama kali dilakukan sepanjang sejarah.
(Bersambung)

Ditulis oleh : Bambang Irawan.
(Spesialis Peneliti Sejarah Geger Cilegon 1888).

Post a Comment

 
Top