close


NC, Sejarah - Sejarah adalah merupakan sebuah kejadian dimasa lampau dan diceritakan kembali pada masa yang berbeda. Dalam satu peristiwa sejarah kadang terdapat berbagai versi, hal ini dapat terjadi karena disebabkan oleh faktor tertentu.

Salah satunya, boleh jadi memang ada unsur kesengajaan, demi sebuah kepentingan yang biasanya dipengaruhi oleh situasi politik. Atau ada juga yang karena disebabkan oleh perspektip penulisnya sehingga satu sisi lebih dominan dibandingkan sisi lainnya, dan hal itu bisa dimaklumi selama sudut pandang si penulis tidak bertentangan dengan fakta serta data sejarah yang ada.

Begitupun dengan peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, dimana
merupakan sebuah gerakan perjuangan rakyat Banten yang dipimpin oleh para kiyai dan bertujuan untuk mengusir kaum penjajah yang kala itu semakin kuat bercokol dan memerintah di Banten. Berdasarkan penelusuran, ternyata sejarah perjuangan rakyat Banten ini jarang orang yang mengetahuinya.

Akan tetapi jika dicermati justru ada fenomena menarik, ternyata banyak orang lebih mengenal peristiwa heroik ini dengan istilah Geger Cilegon, dan sangat dimengerti jika akhirnya muncul istilah itu. Karena pada waktu peristiwa terjadi, yang sudah dikuasai dan diduduki oleh para kiyai hanya baru wilayah afdeling Anyer, yaitu Cilegon.

Sementara untuk wilayah afdeling hulu, atau sekaligus yang menjadi pusat pemerintahan karesidenan Banten, (kota Serang) hanya baru sempat dikepung namun belum dilakukan penyerangan apalagi direbut.

Sehingga terkesan bahwa peristiwa berdarah yang telah menelan korban dari seluruh jajaran pejabat pemerintah kolonial Belanda kala itu hanya terjadi di satu wilayah saja, yaitu Cilegon.

Yang melatar belakangi terjadinya peristiwa Geger Cilegon ini konon katanya lebih disebabkan oleh faktor alam yang tidak bersahabat. Adanya kemarau panjang, wabah penyakit dan ditambah lagi dengan meletusnya gunung Krakatau, yang menyebabkan kesengsaraan dan keresahan sosial sehingga terjadilah pemberontakan.

Seperti itulah gambaran ringkas yang sampai ketelinga masyarakat tentang penyebab meletusnya peristiwa Geger Cilegon 1888, karena memang informasi itu yang telah beredar luas dan lebih mudah didapatkan (melalui internet). Padahal jika dicermati dari sudut pandang yang lain, peristiwa ini meletus karena mempunyai latar belakang dan tujuan tertentu.

Oleh karenanya, apakah gunung Krakatau itu meletus atau tidak, namun apa yang disebut dengan Geger Cilegon itu tetap akan meletus juga pada waktunya.

Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, Kiyai Haji Tubagus Ismail adalah salah satu dari murid Haji Abdul Karim yang terkemuka. Dan dengan dibantu oleh Haji Marjuki mereka bergerak menggalang dukungan serta berkomunikasi dengan para kiyai yang ada diseluruh wilayah Banten, termasuk para kiyai yang ada di Cilegon.

Setelah semua rencana telah dianggap matang, maka ditentukanlah hari penyerangan dengan strategi dan target-target yang telah ditentukan pula.

Kemudian setelah peristiwa itu terjadi banyak para kiyai beserta pengikutnya yang ditangkap dan dimintai kesaksian dalam sebuah persidangan mengenai siapa saja yang terlibat serta mencari latar belakang mengapa peristiwa itu terjadi.

Dari berbagai keterangan yang diberikan oleh para saksi, terdapat salah satu alasan yang menjadi latar belakang meletusnya peristiwa ini; yaitu seperti yang disampaikan oleh Dulmanan alias Armaja alias Nasidin dari Krapyak, yang menerangkan bahwa:

"Haji Wasid mengatakan kepada orang-orang bahwa sebuah negara Islam telah didirikan dan bahwa Haji Tubagus Ismail telah diproklamasikan sebagai raja, setiap orang yang tidak mau menjadi pengikutnya akan ditangkap".

Tentu saja, itu bukan satu-satunya informasi yang dapat dijadikan latar belakang gerakan ini. Masih banyak kesaksian lain yang senada dengan itu. Dan selain dari itu, sebagaimana diketahui bahwa Haji Tubagus Ismail adalah salah seorang kiyai yang memegang peranan penting dalam gerakan ini. Ia sudah beberapa kali naik haji, dan perjalanan-perjalanannya ke Mekah telah menambah rasa permusuhannya terhadap penguasa-penguasa kafir, sementara gagasannya untuk mewujudkan cita-cita gurunya, Haji Abdul Karim sudah menjadi matang. Kemudian pada perjalanan naik hajinya yang terakhir, ia menerangkan kepada rekan-rekan seperjalananya bahwa menurut para ulama di Mekah, Banten akan mempunyai rajanya sendiri tidak lama setelah pohon-pohon Johar ditanam dipinggir-pinggir jalan.
(Bersambung)

Ditulis oleh : Bambang Irawan.
(Spesialis Peneliti Sejarah Geger Cilegon).

Post a Comment

 
Top