NC, Sejarah - Rasa penasaran penulis akan kemunculan cerita tentang busur panah yang cukup mengegerkan, yang diproduksi dilingkungan Kecamatan Kasemen, Kota Serang, oleh salah seorang warga disana, yang sebenarnya ia berasal dari Jombang Wetan, Cilegon.
Hal ini berawal dari sebuah tayangan di YouTube, yang menjelaskan tentang pembuatan busur dan anak panah dengan alat sederhana, namun dianggap memiliki kualitas yang dikagumi oleh bangsa Eropa.
Dalam tayangan tersebut dijelaskan tentang sebuah toko di Malta, milik Armin Hirmer, yang memamerkan hasil karya tersebut disebuah etalase tokonya, dan banyak warga Eropa yang terkagum-kagum serta menyukai busur panah tersebut.
Rasa penasaran akan adanya busur panah yang telah sampai di negara Eropa itu, akhirnya penulis menelusuri akan kebenaran berita itu, dan sampailah pada Workshop sederhana yang berada di Kasemen, Serang-Banten.
Kemudian penulis bertemu dengan pemilik workshop, yang bernama Ermano Graffinya, maestro panahan yang hasil karyanya telah merambah belahan dunia.
Ternyata pemilik workshop tersebut merupakan salah satu keturunan dari salah seorang kiyai yang mempunyai peranan penting ketika meletusnya peristiwa Geger Cilegon 1888, yaitu Haji Makid, yang kemudian dibuang oleh Belanda ke Bandanaira, kepulauan Maluku, Ambon. Yang mana kitab-kitab peninggalannya hingga kini masih ada dan terawat dengan baik ditangan keturunannya.
Adapun cerita menarik yang disampaikan oleh Sang maestro, ternyata awal mulanya ide membuat panahan tersebut setelah ia meneliti dan membaca kitab-kitab peninggalan kiyai Geger Cilegon, yang cukup banyak tersimpan di desa Gulacir, Waringinkurung.
"Setelah saya membaca kitab peninggalan kiyai Geger Cilegon, kemudian seperti ada sebuah dorongan kuat agar saya membuat sebuah karya berupa busur dan anak panah ini," kata Ermano Graffinya.
Ia menjelaskan, padahal dirinya sama sekali belum pernah mengenal cara membuatnya, apalagi mengetahui dari apa bahannya. Namun rupanya dari semangat perjuangan melawan Belanda itulah yang kemudian menggerakan tangannya dan berhasil menciptakan sebuah karya yang pantas diacungi jempol.
"Dari situlah saya terinspirasi untuk membuat busur panah, yang pada waktu itu panah merupakan senjata yang digunakan untuk melawan kolonial Belanda," jelasnya.
Untuk diketahui, Haji Makid sebelum di buang ke Bandanaira, Ambon, beliau tinggal di Jombang Wetan, yang pada waktu memiliki menara mesjid. Dan secara kebetulan lokasinya bersebelahan dengan tempat tinggal Asisten Residen Gubbels. Kemudian menara mesjid miliknya itu dirobohkan atas perintah Gubbels, karena istri Gubbels merasa terganggu apabila mendengar suara adzan yang dilantunkan dari atas menara tersebut.
Dengan dirobohkannya menara mesjid milik Haji Makid itu telah membuat marah warga sekitar. Akhirnya rencana perlawanan terhadap pemerintah Belanda, yang waktu itu masih sedang direncanakan oleh para kiyai, kemudian dipercepat dan meletuslah pertempuran Geger Cilegon 1888.
Dalam peristiwa bersejarah tersebut Haji Makid bersama ratusan pejuang Cilegon lainnya kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman yang berbeda-beda oleh Belanda. Sementara Haji Makid dibuang ke Bandanaira dan tak pernah kembali ke tanah kelahirannya sampai akhir hayatnya.
Namun sekitar tahun 1960, beberapa anak keturunan Haji Makid kembali ke Jombang wetan, yang salah satunya adalah kakek dan nenek dari Ermano Graffinya, Sang Mastro pembuat panahan khas Banten yang fenomenal itu.
Penulis : Bambang Irawan
Editor. : Dede Irawan


Post a Comment