close



NC, Sejarah - Mungkin membaca judul di atas terlihat mistik, namun ini hanyalah sebuah judul yang menggambarkan saksi sejarah dari sebuah tragedi berdarah, ialah peristiwa Geger Cilegon 1888. Dimana pusat pertokoan yang lokasinya berseberangan dengan mesjid Agung Nurul Ikhlas Kota Cilegon itu, dahulunya adalah sebuah rumah peninggalan Belanda yang kemudian runtuh lebih awal, bila di banding rumah peninggalan Belanda lainnya yang ada di Kota Cilegon pada masa itu.

Sebenarnya sampai pertengahan tahun 1980an, bekas rumah tinggal pejabat pemerintahan kolonial Belanda tersebut masih berdiri, walau atapnya sudah mulai rusak dibeberapa bagiannya. Namun sepengetahuan penulis, rumah itu dalam keadaan kosong tak berpenghuni. 

Berbeda kondisinya dengan bangunan peninggalan Belanda lainnya, dimana keadaannya masih relatif baik, yaitu tiga buah rumah yang berada di sebelah timurnya. Pada masa itu ketiga rumah tersebut ditempati oleh warga masyarakat keturunan Tionghoa, sekalipun pada akhirnya juga dibongkar dan diganti dengan bangunan moderen. 


Dari desas desus warga sekitar, sebelum rumah tersebut dibongkar dan diatas lahannya kemudian dibangun pusat pertokoan, katanya penghuninya sering barganti-ganti. Berbeda dengan rumah lainnya, dimana menjadi tempat tinggal tetap. 

Rupanya setelah Indonesia merdeka 1945, rumah-rumah tersebut ditinggalkan oleh Belanda, sehingga bisa dimaklumi jika kemudian ditempati oleh masyarakat biasa, akan tetapi rumah yang satu ini tidak dihuni oleh siapa pun. Hal ini boleh jadi disebabkan karena adanya gosip yang beredar bahwa tempat tersebut menjadi sarang hantu sehingga siapa pun yang menempatinya akan merasa tidak betah menetap dibangunan bersejarah tersebut.

Untuk diingat bahwa bangunan rumah tersebut, dalam peristiwa Geger Cilegon merupakan target serangan oleh pejuang Cilegon.

Dalam data sejarah penulis mendapatkan informasi, bahwa pada hari Senin pagi,  KH. Tubagus Ismail memimpin serangan ke rumah tersebut. Pada saat itu dua anak perempuan turut menjadi korban, yaitu Elly dan Dora. 

Ketika jendela dan pintu didobrak,  Elly berusaha lari,  tapi gadis malang itu ditangkap dan dibunuh tanpa ampun, kepalanya pecah dihantam batu besar. Sementara kakaknya, Dora mendapatkan bacokan dikaki kemudian meninggal setelah dicincang. 

Pada masa itu ada cerita yang berkembang di masyakat tentang hantu Belanda. Adapun kebenaran mengenai keberadaan hantu Belanda yang menghuni rumah tua tersebut belum bisa dibuktikan.

Namun dengan adanya bukti bahwa rumah tersebut kondisinya rusak karena tidak ada yang menempati, bisa jadi itu merupakan pertanda bahwa rumah tua itu berhantu.

Penulis : Bambang Irawan
Editor.   : Dede Irawan

Post a Comment

 
Top