NC, Sejarah - Kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda yang dapat bertahan sampai ratusan tahun di persada ibu pertiwi ini dapat dimaklumi. Hal ini disebabkan karena dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, semangat untuk memberontak tidak pernah tumbuh.
Kalau pun ada kisah-sejarah yang menentang penjajahan Belanda, itu tidak lebih dari sikap pribadi seseorang yang tidak mau diajak kerja sama oleh Belanda.
Di Jawa Tengah ada Pangeran Diponegoro yang dikejar-kejar oleh Belanda, bahkan sampai bersembunyi di Goa Selarong, yang kemudian dijebak dan ditangkap oleh Belanda.
Di Maluku ada Patimura, orang yang paling dibenci oleh Belanda, yang kemudian dicari dan dijatuhi hukuman gantung. Kedua peristiwa sejarah itu sangat dikenal oleh bangsa Indonesia karena memang diajarkan di sekolah-sekolah.
Akan tetapi ada sebuah peristiwa sejarah perlawanan dan upaya merebut kemerdekaan dari panjajah Belanda justru jarang orang yang mengetahui. Hal ini bisa dimaklumi karena catatan sejarah ini terkubur dan luput dari perhatian orang.
Padahal peristiwa yang terjadi pada tahun 1888 ini adalah satu-satu bukti nyata bahwa bangsa Indonesia jugabpunya nyali untuk merebut kemerdekaan dari Belanda. Dan peristiwa yang kemudian dikenal dengan istilah Geger Cilegon yang menginspirasi perang gerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda yang kedua.
Adapun perang gerilya pertama yang dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah rangkaian dari kejadian Geger Cilegon, dimana para pimpinan pemberontak dan anak buahnya diburu oleh pasukan Belanda. Mereka bersembunyi di hutan dan gunung-gunung sampai akhirnya terjadi pertempuran sengit di desa Cisiit, Pandeglang dan mereka semua gugur sebagai syuhada.
Sementara itu Haji Mahmud tidak turut bergerilya. Ia ditangkap di rumahnya di Terate Udik, tanpa perlawanan. Hal ini beliau lakukan demi untuk menghindari banyak korban dari balas dendam pasukan Belanda yang sedang memburu para pemberontak.
Tapi dasar penjajah, sekalipun Haji Mahmud sudah bersedia ditangkap, tetap saja desa Terate Udik dibakar. Semoga dengan diangkatnya kisah sejarah ini, akan mengenal jati dirinya. Dimana para leluhurnya lebih bangga menjadi pemberontak ketimbang harus berkerja sama dengan Belanda.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment