NC, Sejarah - Ketika berusaha mencari dimana lokasi sungai Krenceng, penulis cukup kesulitan untuk mendapatkan informasi. Memang saat sekarang ini jarang orang yang mengetahui dimana lokasi sungai tersebut berada, sebab situasi dan kondisinya sudah sangat berubah.
Padahal sungai tersebut merupakan catatan sejarah dari sebuah peristiwa pemberontakan terbesar yang pernah ada. Dimana peristiwa Geger Cilegon 1888 adalah satu-satunya pemberontakan yang pernah terjadi sepanjang sejarah pemerintahan kolonial Belanda berlangsung di bumi nusantara sampai ratusan tahun.
Bagi saya (penulis) lokasi sungai Krenceng itu sangat penting untuk diketahui serta diketemukan karena merupakan salah satu jalur yang dilalui oleh Haji Wasid dan kawan-kawan ketika mereka berusaha menyelamatkan diri dan bergerilya dari pengejaran ekspedisi militer Belanda.
Dimana sehari setelah peristiwa Geger Cilegon pecah, pemerintah pusat kolonial Belanda di Batavia (Jakarta) mengirimkan bantuan pasukan tentaranya, dan tujuannya untuk mengendalikan keamanan serta memadamkan pemberontakan yang sedang berlangsung di Cilegon.
Awalnya Haji Wasid beserta pimpinan pemberontak lainnya menyingkir ke utara, ke wilayah sekitar gunung Santri. Namun karena disana sudah dikepung oleh pasukan Belanda, akhirnya kolompok pemberontak itu pun merubah haluan. Mereka kemudian bergerak ke selatan dan sempat bermalam disekitar pantai yang sekarang lokasi tersebut menjadi pusat pembangkit listrik PLTU milik PT. Krakatau Steel.
Pagi-pagi sekali kelompok pemberontak itu meneruskan perjalanannya dengan menyusuri kali Kerenceng dan menyebrang jalan raya Cilegon-Anyer tujuannya adalah desa Sumur di kabupaten Pandeglang. Dan di desa Sumur itu akhirnya Haji Wasid dan kawan-kawan gugur sebagai syuhada, setelah terjadi pertempuran hebat dengan pasukan Belanda pada tanggal 29 Juli 1888.
Pada masa itu disepanjang kali Krenceng terdapat kampung-kampung yang sekarang sudah digusur karena lahannya dijadikan pusat industri baja PT. Krakatau Steel. Adapun nama-nama kampung yang terdapat disebelah timur kali Krenceng adalah Citangkil, Lembang, Kedung Kemiri, Cure Wetan.
Sebelum melintasi kampung-kampung tersebut, tanggal 11 Juli 1888 Haji Wasid berada di Kaligandu dan keesokan harinya ia menuju rumah Haji Madani di Ciore Kulon, disana ia mengumpulkan kembali anak buahnya yang sudah tercerai berai. Sebelum meneruskan perjalanannya ke wilayah Banten selatan, para pemberontak itu berkemah di hutan dekat pantai disekitar muara sungai Kerenceng.
Dan berdasarkan informasi dari ibu Hj. Ninin Rosita, bahwa sungai Krenceng itu berada disekitar poliklinik Ananda, di lingkungan Kubang Menyawak.
"Saya masih ingat betul lokasinya disini, tapi dulu sungai ini tidak sempit dan dangkal seperti ini", jelasnya.
Padahal dulunya cukup lebar dan sungai itu dijadikan sebagai tempat mandi bagi masyarakat sekitar, termasuk dirinya juga kadang barmain di sungai itu ketika masih kanak-kanak, cerita Ninin kepada penulis.
Saya (penulis) berkesimpulan bahwa pada saat Haji Wasid dan kawan-kawan bergerilya, mereka melintasi kampung Cure Malang, yaitu desa kelahiran dan tempat bermain masa kecil ibu Haji Ninin Rosita.
Dimana sepanjang sungai Kerenceng sebelah barat terdapat beberapa kampung lainnya, yaitu Curewadas dan Cure Malang. Namun sayangnya keberadaan kampung-kampung itu pun sudah tidak ada lagi, karena sudah dipindahkan ke wilayah Cilegon bagian selatan ketika pabrik baja terbesar se Asia tenggara mulai dibangun pada awal tahun 1970 an.
Penulis sengaja mengangkat kisah sejarah ini dengan maksud agar generasi mendatang dapat mengetahui bahwa yang sekarang menjadi pusat industri berat di kota Cilegon ini dahulunya adalah desa-desa yang berpenghuni dan dipindahkan demi kepentingan pembangunan dan kemajuan di Cilegon.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment