NC, Sejarah - Bagi sebagian masyarakat Cilegon jika mendengar nama Citangkil tentu saja yang terbayang adalah sebuah kampus gedung pendidikan yang cukup luas di Cilegon, dimana kampus tersebut dikenal dengan nama Al-Khairiyah.
Dan jika dicermat, nama Al-Khairiyah ini cukup menarik, karena ia bukan satu-satunya yang dipakai untuk nama perguruan tinggi yang ada di Cilegon tersebut. Tapi banyak lembaga pendidikan yang menggunakan nama Al-Khairiyah ini mulai dari tingkat madrasah, Aliyah dan Sanawiyah. Sedangkan lokasinya pun bukan hanya di wilayah Cilegon saja tapi sampai di luar Cilegon, bahkan diluar pulau Jawa.
Namun dalam kesempatan ini saya (penulis) tidak sedang menceritakan hal itu, tetapi ingin mengisahkan tentang nama tempat yang disebut Citangkil. Adapun Citangkil yang lokasinya sekarang dekat Makam Balung itu sebenarnya merupakan tempat pemukiman baru, yaitu sejak PT. Krakatau Steel berdiri di Cilegon.
Ketika pabrik baja terbesar se Asia Tenggara itu mulai dibangun, banyak desa-desa di Cilegon yang harus dipindahkan karena lahannya dijadikan sebagai kawasan Industri. Dan salah satunya adalah Citangkil. Untuk tidak menghilangkan historis serta jati diri, maka nama-nama desa yang digusur tersebut tetap dipakai dilokasi dipemukiman yang baru.
Banyak nama-nama desa yang bersejarah di Cilegon yang yang berkaitan dengan terjadinya peristiwa Geger Cilegon 1888, dan Citangkil adalah salah satu desa yang menyimpan sejarah, namun sayangnya desa bersejarah itu sekarang menjadi lokasi Industri Berat.
Setelah meletusnya peristiwa Geger Cilegon, kemudian pemerintah pusat dari Batavia pun mengerahkan pasukannya ke Cilegon untuk melakukan penumpasan dan mengendalikan keamanan diseluruh wilayah afdeling Anyar itu. Melihat situasi yang kurang menguntungkan, Haji Wasid beserta para kiyai yang lainnya kemudian menentukan strategi dengan melakukan perang gerilya.
Mula-mula para pimpinan pemberontak itu bergerak ke bagian utara Cilegon, mereka bersembunyi di wilayah selatan gunung Santri, Bojonegara. Namun karena situasi disana dianggap tidak aman, kemudian para pemberontak itu pun bergerak menuju ke wilayah Banten Selatan.
Untuk mengecoh operasi pasukan Belanda yang sedang gencar mencarinya, mereka pun menyebarkan kabar burung kemana mereka bersembunyi. Dengan cara begitu pasukan Belanda mendapat informasi yang salah tempat para pemberontak itu berada, sehingga perjalanan ke wilayah Banten Selatan pun berhasil dilakukan tanpa diketahui.
Ketika pasukan Belanda berkonsentrasi di wilayah Bojonenegara, para kiyai itu sudah sampai di Ciasahan. Rute perjalanannya yang dilaluinya adalah Kepuhdenok, Blokang dan Luwuk, namun pada kesempatan itu Haji Kasiman memisahkan diri tidak ikut dengan rombongan. Ia bersembunyi di Citangkil, sebuah desa yang sekarang lokasinya berada disekitar PLTU di kawasan Industri PT. Krakatau Steel.
Dengan banyaknya pasukan ekspedisi militer yang dikerahkan, tidak ada sejengkal tanah pun yang dapat luput dari penyisiran pasukan Belanda. Termasuk Citangkil, tempat persembunyian Haji Kasiman, bersama salah seorang rekannya, Haji Arbi, mereka berdua bersembunyi di desa yang sekarang sudah digusur itu. Pada tanggal 27 Juli 1888, berdasarkan informasi dari mata-mata kemudian desa Citangkil pun dikepung.
Ketika Haji Kasiman dan Haji Arbi mendengar derap kaki kuda pasukan kavaleri, mereka pun segera menyadari jika tempat persembunyiannya sudah bocor dan diketahui pihak musuh. Mereka pun tidak menunggu lama lagi untuk bergerak keluar rumah tempat persembunyiannya.
Haji Kasiman yang masih cekatan itu berhasil melompati pagar dan menghilang dibalik pepohonan. Namun Haji Arbi tidak sempat meloloskan diri karena beberapa serdadu belanda sudah berada didekatnya. Akhirnya ia pun nekad melakukan perlawanan dengan membacok salah seorang dari mereka. Namun bersamaan dengan itu terdengar serentetan peluru dan sabetan pedang mengakhiri perlawanannya, dan Haji Arbi pun tersungkur tak berdaya.
Untuk menemukan dimana Haji Kasiman bersembunyi, pasukan Belanda memaksa masyarakat setempat untuk ikut mencari dan menemukan dimana keberadaan Haji Kasiman. Karena situasinya yang sudah tidak memungkinkan lagi bagi Haji Kasiman untuk tetap bersembunyi, maka ia pun muncul menampakan dirinya.
Sekalipun Haji Kasiman merasa tidak ada kesempatan lagi untuk berlari, namun ia tidak mau menyerah begitu saja untuk ditangkap. Dirinya lebih suka memilih gugur sebagai syuhada daripada ditangkap dan, pasti akan dipaksa untuk menunjukan tempat persembunyian rekan-rekan lainnya.
Ditengah pematang sawah, dengan gagah berani Haji Kasiman berdiri mengacungkan kerisnya. Dan menghadapi keberanian yang tak kenal menyerah itu akhirnya komandan pasukan kavaleri memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan tembakannya, dan ia pun gugur dengan terhormat. Lebih baik menjadi pemberontak dari pada harus menjadi penjikat.
Dari kisah sejarah diatas kita dapat mengenali karakter secara umum serta sifat wong Cilegon yang sebenarnya...
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment