close


NC, Cilegon - Yang disebut dengan Surosowan adalah sebuah istana tempat tinggal raja Banten dan sekaligus sebagai pusat pemerintahan kerajaan, yang kemudian lebih dikenal dengan kesultanan Banten. Disekeliling istana tersebut terdapat benteng sebagai pertahanan dari serangan musuh. 

Akan tetapi saya (penulis) tidak secara spesifik membahas tentang sejarah kesultanan Banten. Namun karena kesultanan Banten ada kaitannya dengan peristiwa Geger Cilegon 1888, maka dalam kesempatan ini saya ingin menceritakan bagai mana keadaan Surosoan sebelum dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808.

Surosowan adalah satu-satunya istana kerajaan termegah dan termoderen yang pernah ada di persada nusantara. Dimana Banten pada masa lalu merupakan kerajaan besar yang sangat disegani oleh kerajaan lainnya, bahkan keberadaannya sangat diperhitungkan oleh bangsa Eropa.

Oleh karenanya, ketika bangsa Eropa ingin menguasai nusantara maka langkah pertama yang dilakukan adalah menghancurkan kesultanan Banten. 
Betapa tidak, pada masa itu kesultanan Banten, baik secara fisik maupun sistim perdagangannya sudah sejajar dengan kerajaan Belanda. Padahal pada waktu itu Banten berada diujung barat pulau Jawa, yang pada masa itu bangsa yang ada nusantara dianggap sebagai bangsa tertinggal. 

Dimana Belanda sendiri pada masa itu sedang berada dibawah kekuasaan Napoleon Bonaparte, kaisar Prancis. Dan untuk mempertahankan prestise Prancis yang pada masa itu sebagai bangsa yang paling berkuasa, boleh jadi Napoleon mengirim Daendels dengan tujuan utamanya adalah untuk membumihanguskan Surosoan. 

Kerajaan Banten berdiri pada tahun 1552 dan Maulana Hasanudin sebagai raja pertama yang memerintah sampai pada tahun 1570. Surosowan menjadi pusat pemerintahan dan sekaligus sebagai ibu kota yang dinamakan Kota Intan. Adapun bahasa yang dipergunakan adalah Sunda, Jawa,  Melayu dan Arab. 

Pada tahun 1638 raja Banten mendapat gelar sultan dari kekhalifahan kerajaan Islam yang berpusat di Turki. Sejak saat itu seluruh raja yang bertahta di kerajaan Banten disebut Sultan. Adapun sultan Banten yang pertama adalah Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir. 

Kemudian pada tahun 1811 Inggris masuk dan merebut kekuasaan dari Belanda. Tiga tahun setelah Rafles menjabat Gubernur Jenderal di pulau Jawa, dengan kekuaaaannya itu Sang Gubernur Jenderal memaksa sultan Banten untuk menyerahkan kekuasaannya ke kerajaan Inggris, dan mencopot gelar sultan Banten.

Dengan demikian rakyat Banten sudah tidak lagi memiliki sultan. Sementara kesultanan lainnya dibiarkan tetap ada sampai Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Dan dapat dimaklumi jika sampai saat ini masyarakat Banten lebih mengenal Sultan Hasanudin ketimbang sultan-sultan sesudahnya. 

Dengan dihapuskannya kesultanan Banten, baik secara fisik maupun struktur pemerintahannya telah membuat rakyat Banten kehilangan pemimpin dan sekaligus panutannya. Kemudian setelah 75 tahun sejak dihapuskannya eksistensi kesultanan Banten, timbulah kerinduan daroli rakyat Banten untuk memiliki kembali pemimpinnya. 

Kemudian beberapa kiyai berkumpul dan merencanakan gerakan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda. Tujuannya adalah untuk merebut kembali kemerdakaan dari pihak Belanda yang saat itu sedang berkuasa. Kemudian pada tanggal 9 Juli 1888 meletuslah peristiwa perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap pemerintah Belanda. Dimana peristiwa itu lebih dikenal dengan sebutan Geger Cilegon 1888.

Penulis : Bambang Irawan

Post a Comment

 
Top