NC, Sejarah -Jombang Wetan yang sekarang wilayahnya berada dikelurahan Jombang Wetan, kecamatan Jombang tersebut begitu banyak menyimpan catatan sejarah. Banyak peristiwa sejarah yang menarik dan layak untuk diangkat kembali kisahnya, agar generasi sekarang dapat mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu.
Ketika peristiwa Geger Cilegon meletus pada tanggal 9 Juli 1888, dimana Jombang Wetan merupakan sebuah tempat yang sangat menentukan, baik menjelang maupun pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut. Dan dari sebuah rumah yang berada di Jombang Wetan itu pula komando penyerangan ke wilayah afdeling Anyer direncanakan dan dikendalikan.
Peristiwa Geger Cilegon adalah sebuah upaya perlawanan yang dipimpin oleh para kiyai yang ada di Banten, untuk membangun sebuah pemerintahan yang berdaulat yang merupakan pengganti dari kesultanan Banten yang telah dihapuskan eksistensinya oleh kaum penjajah.
Semangat perjuangan merebut kemerdekaan itu mula-mula digelorakan oleh Haji Abdul Karim di tanah kelahirannya, di Lempuyang, Tanara. Karena Haji Abdul Karim harus meninggalkan Banten untuk kembali bermukim di Mekah, kemudian semangat perjuangan itu dilajutkan oleh murid-muridnya.
Ada pun murid-murid Haji Abdul Karim yang terkemuka yaitu, Haji Singadeli dari Kaloran, Haji Abubakar dari Pontang, Haji Asnawi dari Bendung, Haji Marjuki dari Tanara dan Haji Tubagus Ismail dari Gulacir. Mereka lah yang kemudian merealisasikan gerakan perang sabil yang telah digagas oleh Haji Abdul Karim.
Tentu saja untuk mewujudkan perlawanan terhadap pemerintah Belanda itu mereka juga harus melibatkan para ulama dan kiyai yang ada diwilayah Cilegon, termasuk Haji Wasid. Yang mana Haji Wasid adalah salah seorang pemuda gagah berani, selain itu beliau juga seorang yang aktip menggelorakan gerakan pemberontakan tersebut ke berbagai daerah lainnya diluar Cilegon.
Oleh karenanya sangatlah wajar jika kemudian Haji Wasid di beri kepercayaan menjabat sebagai Patih atau panglima perang, apabila rencana membangun pemerintahan di Banten berhasil. Atas persetujuan rapat dari hasil musyawarah panjang para kiyai pada waktu itu, akhirnya disepakati bahwa kiyai Haji Tubagus Ismail ditunjuk sebagai raja dan Haji Wasid sebagai Patih.
Ada hal yang sangat menarik untuk dicermati dalam peristiwa Geger Cilegon ini. Terutama pada saat para kiyai mengadakan rapat dari waktu ke waktu serta dilaksanakan ditempat yang berpindah-pindah. Antara bulan Pebruari - Maret 1888 diadakan 3 kali pertemuan di rumah Haji Marjuki di Tanara, dihadiri oleh para ulama dari Serang, Anyar dan Tangerang.
Kemudian pertemuan berikutnya diadakan di Terate, di rumah Haji Asngsari yang dihadiri oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer, sedangkan pertemuan berikutnya di rumah Haji Iskak di Saneja. Dan antara bulan Maret - April pertemuan diadakan di rumah Haji Wasid, di Beji. Kemudian dilanjutkan di rumah Haji Singadeli, di Kaloran dan selanjutnya diadakan di rumah Haji Marjuki di Tanara, begitu seterusnya.
Namun pada saat peristiwa itu akan meletus, rapat persiapan dan pematangan penyerangan justru dilakukan di Jombang Wetan, di rumah Haji Akhiya. Kisah sejarah ini sangat menarik, seharusnya apabila wilayah Banten sudah direbut dari pemerintah Belanda dan dikuasai, momen itulah yang harus dijadikan sebagai pengangkatan sekaligus penobatan kiyai Haji Tubagus Ismail menjadi Raja.
Tapi fakta berbicara lain, ketika serangan pertama dilakukan ke wilayah afdeling Anyer, bertepatan dengan itu justru Haji Wasid dinobatkan sebagai raja Banten di rumah Haji Akhya di Jombang Wetan. Hari Senin pada pagi hari tanggal 9 Juli 1888, tersiar kabar bahwa Haji Wasid telah diangkat menjadi raja di Banten.
Dan dalam kekuasaannya yang singkat itu Haji Wasid telah mengambil kebijakan dalam menjatuhkan hukuman kepada para pejabat pemerintah Belanda yang telah ditawan. Akan tetapi pada kesempatan itu pula Haji Wasid tetap mengakui bahwa kiyai Haji Tubagus Ismail adalah atasannya. Namun sayangnya kekuasaan Haji Wasid tidak berlangsung lama, karena pemerintah Belanda menurunkan pasukan militernya dari Batavia untuk menumpas pemberontakan yang sedang bergejolak tersebut.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment