NC, Sejarah- Dalam beberapa tulisan saya pernah dibahas, bahwa menyandang predikat sebagai Pemberontak pada masa pemerintahan kolonial Belanda adalah julukan yang sangat dibanggakan. Karena memang selama masa penjajahan Belanda tidak pernah ada yang memberontak, oleh karenanya kaum penjajah itu dapat berkuasa sampai ratusan tahun di bumi nusantara ini.
Adapun satu-satunya pemberontakan yang pernah terjadi pada masa itu hanyalah yang dilakukan oleh rakyat Banten, dan itu pun akhirnya harus menemui kegagalan karena dapat ditumpas oleh pasukan ekspedisi militer Belanda.
Pada masa lalu, Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan dimana kerajaan itu memiliki batas-batas wilayahnya masing-masing. Dan memang perlu diakui, pada masa kejayaan kerajaan Banten, atau lebih dikenal dengan kesultanan Banten itu wilayah kekuasaannya terbilang cukup luas. Dari ujung Tangerang sampai ke wilayah Lampung yang ada di pulau Sumatra.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung, semua raja dan sultan yang ada di nusantara berada dibawah kekuasaan pemerintah Belanda. Dengan demikian tidak ada wilayah yang berani berontak karena pemimpin lokal mereka pun mendukung pemerintahan yang ada kala itu.
Itulah sejarah kelam dari perjalanan negeri-negeri yang berada di garis khatulistiwa pada masa lalu. Ketika datang kaum penjajah, wilayahnya direbut paksa dan kekuasaannya dipreteli, mereka terpaksa harus takluk dan pasrah pada kekuasaan asing yang mempersatukan wilayah mereka atau kemudian dikenal dengan negara Hindia Belanda.
Namun pada dasarnya tidak semua orang pribumi itu patuh dan taat pada kekuasaan penjajajahan. Ternyata ada juga masyarakat yang berani mengadakan perlawanan dan pemberontakan kepada pemerintahan Belanda. Mereka adalah rakyat Banten, yaitu masyarakat yang hidup di wilayah bekas kekuasaan raja Banten yang legendaris, Sultan Hasanudin.
Boleh jadi, masyarakat di wilayah itu mempunyai prinsip serta jiwa patriotisme yang diwarisi dari leluhurnya terdahulu, sehingga dalam darah mereka tumbuh semangat perjuangan yang tak pernah padam.
Dan itu mereka buktikan dalam sebuah gerakan perang sabil yang dipimpin oleh para kiyai. Mereka berkumpul dan bermusyawarah untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintahan yang dianggap kafir.
Bersamaan dengan itu, di Cilegon terjadi sebuah kebijakan pemerintah yang dianggap telah menyinggung perasaan keagamaan umat Islam. Dimana Asisten Residen Gubbels mengeluarkan aturan yang berkaitan dengan ketertiban umum. Adanya larangan berdzikir dengan suara keras dan termasuk melantunkan panggilan adzan yang biasa dikumandangkan sehari 5 waktu.
Pada masa itu di Jombang Wetan ada seorang kiyai, bernama Haji Makid. Ia memiliki pesantren dan surau, serta terdapat sebuah menara disana. Dari puncak menara itulah adzan dikumandangkan. Karena menara tersebut dianggap telah menciptakan kebisingan, terutama pada waktu Isya dan Subuh, maka menara itu dirobohkan oleh pemerintah.
Hal itu telah membuat Haji Makid marah, yang kemudian ia mengajak masyarakat Cilegon dan Bojonegara untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan itu. Karena pada saat itu para kiyai di Banten sedang merencanakan perlawanan, maka gayung pun bersambut. Dan pecahlah sebuah peristiwa pemberontakan yang kemudian dikenal dengan sebutan Geger Cilegon 1888.
Pasca meletusnya peristiwa Geger Cilegon banyak orang yang ditangkap, mereka dijatuhi hukuman bermacam-macam tergantung kesalahannya. Ada yang dijatuhi hukuman mati, hukuman kerja paksa dan banyak yang dibuang ke luar pulau.
Ada kisah yang menarik dari pembuangan Haji Makid ke Bandanaira, karena anak keturunannya justru kembali ke Jombang Wetan. Dan satu-satunya fenomena menarik ini sehingga penulis mengangkatnya kembali, karena anak keturunan yang dibuang justru kembali ke tanah kelahirannya lagi.
Pada tahun 1960 mereka kembali ke Jombang Wetan dan membuka usaha sebagai penjahit pakaian dengan nama Banda Tailor. Ada pun penjahit Banda Tailor tersebut kemudian populer di awal tahun 1980 an karena banyak perusahaan di Cilegon yang menjalin kerja sama dalam hal pembuatan pakaian seragam karyawan.
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment