close


NC, Kota Cilegon - Kekurangan jumlah personil, unit mobil pemadam dan unit mobil rescue (Penyelamatan) menjadi kendala tersendiri saat melakukan proses pemadaman kebakaran dengan skala yang besar. Hal tersebut menjadikan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Cilegon tidak maksimal dalam melakukan penanganan kebakaran.

Kepala Seksi Penyelamatan Damkar Kota Cilegon Ipan Zaenudin mengaku, personil pemadam yang ada hanya berjumlah 57 orang dan yang piket hanya 20 orang, di Pos utama 15 orang dan Pos Merak 5 orang. Jumlah tersebut sangat jauh dari ideal dan harus segera ada penambahan.

"Idealnya sekitar 30 sampai 40 personil yang piket. Dipos utama 30 personil dan dipos Merak 10 orang. Kami berharap ini menjadi pertimbangan untuk segera dilakukan penambahan,"katanya.

Ipan menjelaskan, dengan jumlah personil yang terbatas. Saat terjadi kebakaran hanya bisa mengerahkan dua regu dan dua unit mobil saja, satu regu berisi lima orang, jika dua regu maka hanya sepuluh personil dan sisanya menjaga pos utama. Namun, jika kondisi kebakaran sangat besar, Damkar sangat kewalahan karena harus memanggil semunya personil yang sedang lepas piket. Hal tersebut membuat penanganan menjadi lambat karena harus menunggu personil datang.

"Jika terjadi kebakaran besar seperti kejadian beberapa waktu lalu di Citangkil. Kami mengerahkan empat unit dan terpaksa menghubungi personil yang sedang lepas piket. Akhirnya penanganan menjadi lambat karena menunggu personil datang. Belum lagi, sebenarnya apa yang kami lakukan sudah melanggar SOP (Standar Operation Prosedur). Namun karena darurat, tetap kami lakukan," jelasnya.

Selain masalah personil, Ipan mengungkapkan, dari jumah delapan unit mobil pemadam kebakaran hanya empat unit yang bisa dipakai, sisa empat unit lainnya dalam kondisi tua dan tidak bisa dipakai. Untuk itu, perlu adanya unit mobil pemadam yang baru bagi Damkar Kota Cilegon.

"Meski selalu dilakukan rekondisi unit yang lama. Namun, karena umurnya tua sudah tidak bisa dipakai dalam penyelamatan. Sebab hal tersebut akan semakin memperlambat penanganan dan membahayakan bagi personil," ungkapnya.

Ipan menuturkan, Damkar Kota Cilegon juga belum memiliki unit mobil rescue. Sehingga langkah penyelamatan kepada korban kebakaran menjadi sangat terkendala. Sebab, keberadaan unit rescue sangat penting bagi setiap proses penyelamatan baik kebakaran maupun hal lainnya.

"Saat melakukan penyalamatan sangat lambat. Pernah ada kejadian ketika kami mengevakuasi warga yang masuk kedalam sumur. Karena unit rescue tidak ada dan peralatan minim, proses penyelamatan bisa mencapai berjam-jam. Saat terjadi kebakaran juga kami sangat terkendala jika sampai ada orang yang harus dievakuasi," tuturnya

Ipan berharap, dengan kondisi seperti ini bisa menjadi perhatian seluruh pihak permangku kebijakan untuk bisa memproritaskan berbagai hal yang bersifat penanganan dan penyelamatan di Kota Cilegon, khususnya masalah pemadam kebakaran,

"Kami inginkan personil dan unit mobil ditambah sampai jumlah yang ideal, unit rescure juga bisa diadakan. Sehingga peroses pemadaman bisa dilakukan dengan cepat dan tepat, korban dan kerugian yang ditimbulkan juga bisa diminimalisir," harap Ipan

Sementara itu, personil Pemadam Damkar Kota Cilegon Agus Supriyanto mengatakan, dengan jumlah personil yang minim sangat kewalahan saat melakukan pemadaman. Belum lagi jika sedang lepas piket saat dihubungi harus segera meluncur ke pos utama.

“Kerja kami sungguh ekstra. Dari serang saya harus meluncur kepos utama saat kebakaran di Citangkil kemarin. Ada lagi, salah satu personil juga meluncur dari Walantaka (Serang – red) menuju kepos. tentu ini sangat tidak efektif, sementara penanganan kebakaran harus secepatnya dilakukan, jika tidak maka akan semakin merembet dan membesar,” ungkapnya.(*)

Post a Comment

 
Top