close



NC, Sejarah - Mungkin selama ini kita hanya mengenal keberanian seorang wanita melawan kolonial Belanda hanya pahlawan yang berasal dari Provinsi Aceh yaitu Cut Nya Din. Padahal di Kota Cilegon, tepatnya di lingkungan Seneja Kelurahan Sukmajaya Kecamatan Jombang, juga memiliki sosok wanita yang sangat ditakuti oleh Belanda.

Sosok wanita tersebut adalah Nyi Kamsidah yang dikenal sebagai macan betina dari Saneja, yang juga istri dari Haji Iskak, pimpinan pejuang Geger Cilegon. 

Pada malam itu, rumahnya kedatangan para kiyai dari penjuru Banten, termasuk Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail. Karena suaminya, Haji Iskak sedang berada di kediaman Haji Akhiya, maka ia pun berangkat ke rumah Haji Akhiya di Jombang Wetan, untuk menemui para kiyai yang saat itu sedang bermusyawarah disana. 

Padahal pada masa itu perjalanan dari Saneja ke Jombang Wetan tidak semudah seperti sekarang. Penjagaan Belanda sangat ketat,  apalagi bagi seorang wanita yang berjalan sendirian dimalam hari. Namun berkat keberanian serta kepiawaiannya, ia bisa sampai di Jombang Wetan tanpa diketahui oleh penjaga yang berada di gardu penjagaan. 

Sesampainya ditujuan, kemudian para kiyai pun menyetujui bahwa musyawarah untuk mematangkan gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda itu dilanjutkan di Saneja, dikediaman Nyi Kamsidah. Dan setelah situasinya dianggap aman, lewat tengah malam itu juga Nyi Kamsidah kembali ke Saneja bersama-sama dengan para kiyai itu. 


Hingga akhirnya perlawanan melawan Belanda pun pecah dan disebut Geger Cilegon 1888. Dalam peristiwa tersebut Nyi Kamsidah pun turut terlibat dalam pertempuran yang hebat dan terbesar sepanjang sejarah itu. 

Tercatat dalam data sejarah bahwa Nyi Kamsidah dengan keberaniannya telah membantai Istri dari Asisten Residen Gubbels, Anna van Zuptent yang merupakan orang nomer satu di Kota Cilegon.

Sampai akhirnya Nyi Kamsidah ditangkap oleh Belanda dan diberikan hukuman kerja paksa hingga 20 tahun.

Namun sangat disayangkan keberanian Nyi Kamsidah dan pejuang Geger Cilegon lainnya, yang telah berjuang melawan penjajahan, namun namanya tidak dikenal apalagi dicatat sebagai pahlawan nasional seperti para pahlawan lainnya yang kita kenal. 

Penulis : Bambang Irawan
Editor    : Dede Irawan

Post a Comment

 
Top