NC, Sejarah - Mendengar nama Ki Wasid, bagi sebagian warga pribumi Kota Cilegon tidaklah bergitu asing. Karena ia adalah salah pimpinan pejuang Geger Cilegon 1888, yang tewas ditangan Belanda, namun sampai saat ini keberadaan makam tokoh utama dalam peristiwa besar tersebut masih menjadi misteri.
Sehingga penulis mencoba menggali data dan informasi dari berbagai sumber.
Berawal dari sebuah makam yang berada jalan raya Cilegon tepatnya dilingkungan Gudang, kelurahan Jombang Wetan, kecamatan Purwakarta, konon katanya disitulah Ki Wasid di makamkan. Dimana sewaktu saya masih duduk di Sekolah Dasar (SD), penulis sering melewati lokasi itu, dan disana terlihat sebuah plang kecil bertuliskan; Makam Ki Wasid.
Namun karna kepentingan program proyek pembangunan kota Cilegon sekitar tahun 1987, untuk melakukan pelebaran jalan protokol, yang mana pada waktu itu jalan tersebut dikenal dengan nama Jalan Ki Wasid, atau sekarang berubah menjadi Jalan A. Yani.
Atas persetujuan keluarga dan ahli waris Ki Wasid, KH Mansyur Muchidin, akhirnya makam tersebut dipindahkan kedalam area yayasan Ki Wasid yang berada di lingkungan Barokah, kelurahan Jombang wetan, dengan dilakukan upacara dan selamatan sederhana.
Namun menurut cerita yang berkembang dikalangan masyarakat, bahwa makam Ki Wasid yang berada di Lingkungan Gudang tersebut merupakan makam buatan Belanda untuk melemahkan semangat perlawanan anak buah ki Wasid, dengan cara menghembuskan informasi meninggalnya Ki Wasid dan telah dimakamkan ditempat itu
Dengan adanya bukti dari keberadaan makam itu, pihak Belanda ingin menyampaikan pesan agar perlawanan segera disudahi, karena pemimpin mereka telah dibunuh dan dikuburkan ditempat itu.
Rasa penasaran tentang makam tersebut, saya (penulis) mencoba menemui akhli waris Ki wasid KH, Mansyur Muchidin, dan mendapatkan cerita bahwa Ki Wasid meninggal dengan cara diikat kedua kaki dan tangannya kemudian ditarik oleh empat ekor kuda ke empat arah penjuru angin. sehingga tubuhnya terbagi empat. Dengan demikian dapat dimaklumi jika beredar pula kabar bahwa kuburan Ki Wasid itu bukan satu-satunya ditempat itu.
Namun saya mencoba menelusuri jejak sejarah Geger Cilegon 1888. Dan dari data-data sejarah yang saya dapatkan, bahwa Ki Wasid gugur beserta seluruh anggota pasukannya, dalam sebuah pertempuran dengan serdadu Belanda di desa Sumur, Pandeglang, pada tanggal 30 Juli 1888. Kemudian mayatnya dibawa ke Cilegon untuk keperluan diidentifikasi dan dokumentasi. Bersama sebelas orang kiyai lainnya, termasuk Haji Tubagus Ismail mereka dimakamkan di area makam Tumenggung Jombang Wetan.
Namun sayangnya ketika penulis mengadakan penelusuran akan keberadaan kuburan tersebut mendapat kesulitan, karena memang tidak ada batu nisan yang dapat diketemukan disekitar pemakaman itu.
Namun sekalipun kuburan para syuhada itu tidak lagi dapat diketemukan, semoga semangat perjuangan mereka akan terus berkobar didada masyarakat Cilegon, agar nama Cilegon bergema kembali menggegerkan dunia internasional seperti pada saat peristiwa itu terjadi.
Penulis : Bambang Irawan
Editor. : Dede Irawan/Red


Post a Comment