NC, Sejarah - Mungkin sebagian warga Cilegon, Lebih banyak mengenal sosok Ki Wasid dalam sejarah peristiwa Geger Cilegon, padahal sesungguhnya banyak sosok lain yang turut merancang lahirnya peristiwa bersejarah tersebut.
Sebenarnya peristiwa perlawanan rakyat Banten yang terbesar sepanjang sejarah, yang kemudian dikenal dengan istilah Geger Cilegon ini adalah merupakan kelanjutan dari gagasan dan ajakan Kiyai Haji Abdul Karim, di tanah kelahirannya, Tanara.
Melalui sebuah gerakan tarekat yang dipimpinnya, Haji Abdul Karim mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda, yang berkuasa di Banten pada waktu itu dan dianggap sebagai pemerintahan yang kafir.
Akan tetapi karena Haji Abdul Karim mendapat tugas untuk menggantikan Khatib Sambas, maka Ia harus kembali ke Mekah, yang kemudian gerakan tersebut diteruskan oleh murid-muridnya.
Diantaranya adalah Haji Singadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung, Haji Abubakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir dan Haji Marjuki dari Tanara, yang kemudian mereka juga menggalang kekuatan dari para kiayai dari luar wilayah Banten.
Adapun tujuan utama dari gerakan tersebut adalah untuk membangun sebuah pemerintah yang berdaulat dan merdeka di Banten, maka tentu saja perjuangan tersebut harus melibatkan seluruh kiayi lainnya dari berbagai wilayah, termasuk juga kiyai dari Kota Cilegon.
Dan ajakan untuk mengadakan gerakan perlawanan tersebut mendapat sambutan dari kiyai-kiyai yang ada di Cilegon, Anyar dan sekitarnya. Diantaranya adalah Haji Sangid dari Jaha, Haji Safiudin dari Leuwibeureum, Haji Madani dari Ciore, Haji Halim dari Cibeber, Haji Iskak dari Saneja dan Haji Mahmud dari Terate Udik, yang kemudian mereka turut berperan aktip dalam setiap pertemuan.
Dalam kesempatan ini penulis akan menceritakan siapa dan apa peranan Haji Muhamad Ahya dalam peristiwa yang sempat menggegerkan pada pertengahan tahun 1888 tersebut.
Adapun Haji Muhamad Ahya dalam data sejarah tertulis nama Haji Akhiya, akan tetapi tidak dijelaskan apa peranan Haji Akhiya dalam gerakan perjuangan tersebut.
Haji Akhiya merupakan tokoh kiyai yang pertama kali ditangkap dan diberi hukuman gantung oleh Belanda. Padahal dalam peristiwa tersebut beliau tidak pernah terjun langsung ke kancah pertempuran. Selain hanya memonitor semua kejadian yang sedang berlangsung dari rumahnya, di lingkungan Jombang Wetan Cilegon, yang pada waktu itu dijadikan sebagai markas komando pergerakan.
Dimana rumah Haji Akhiya pada saat menjelang dan berlangsungnya peristiwa heroik itu merupakan tempat para pimpinan Geger Cilegon merencanakan penyerangan. Karena Haji Akhiya merupakan Tokoh yang paling disegani, maka wajar jika beliau dianggap sebagai "Tuan rumah"di wilayahnya.
Perlu diketahui, Ki Wasid yang merupakan simbol peristiwa Geger Cilegon, adalah salah seorang murid kesayangan Haji Akhiya, sehingga dalam peristiwa tersebut Ki Wasid memegang kendali, bahkan Ki Wasid diberikan kepercayaan oleh Haji Akhiya untuk mendampingi pemimpin tertinggi Geger Cilegon, Kiyai Haji Tubagus Ismail.
Oleh karenanya, sangatlah wajar ketika peristiwa itu berlangsung, Ki Wasid hanya mendampingi Haji Achya di rumah kediamannya, di Jombang Wetan, sementara yang memimpin penyerangan dilapangan dikendalikan langsung oleh Haji Tubagus Ismail beserta pimpinan kelompok pasukan yang lainnya.
Penulis : Bambang Irawan
Editor : Red


Post a Comment