close


NC, Sejarah - Pada tahun 1888 pernah terjadi sebuah pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda, karena terjadi di Cilegon maka orang mengenalnya dengan sebutan Geger Cilegon. Adapun arti "geger" dalam hal ini adalah sebuah kerusuhan yang dilakukan oleh orang banyak bahkan sampai menelan korban jiwa.

Begitu juga pada saat terjadi Geger Cilegon yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 tersebut banyak yang menjadi korban. Dan luar biasanya mereka yang menjadi korban justru dari kalangan para pejabat pemerintah Belanda. Tentu saja kejadian seperti ini tidak pernah ada sebelumnya bahkan sesudahnya pun tidak pernah terjadi lagi. 

Akan tetapi dalam kesempatan kali ini saya (penulis) tidak sedang menceritakan peristiwanya sendiri, namun ingin menceritakan tentang kondisi dan struktur pemerintahan yang ada di Cilegon pada saat peristiwa itu terjadi. 

Pada saat peristiwa Geger Cilegon meletus, Cilegon merupakan ibu kota atau pusat pemerintahan afdeling Anyar. Dimana wilayahnya terdiri dari tiga kawedanaan, yaitu wilayah kawedanaan Anyer, kawedanaan Kramatwatu dan kawedanaan Cilegon sendiri. Dan ketiga bekas gedung kawedanaan yang telah disebutkan diatas semuanya saat ini sudah mengalami renovasi serta berubah fungsi. 

Misalnya bekas gedung kawedanaan Anyar saat ini dipergunakan sebagai puskesmas, sedangkan bekas gedung kawedanaan Cilegon sekarang menjadi Rumah Dinas Walikota, bahkan menurut kabar yang penulis dapatkan gedung tersebut rencananya akan dijadikan sebagai museum kota Cilegon. 

Adapun ciri khas dari gedung pemerintahan yang dibangun oleh Belanda itu didepannya selalu ada lapangannya,  atau pada masa lalu dikenal dengan sebutan alun-alun. Namun sayangnya ketiga alun-alun yang berada dibekas gedung kawedanaan seperti yang disebutkan tadi saat ini kondisinya tidak terpelihara. 

Pada masa lalu alun-alun dijadikan tempat bermain bola bagi masyakat sekitarnya. Oleh karenanya sekalipun alun-alun Kramatwatu dan alun-alun Anyar secara fisik masih bisa dilihat,  namun jarang ditemukan kegiatan bermain bola disana. Ada pun alun-alun bekas gedung kawedanaan Cilegon sudah tidak ada karena sudah menjadi bagian dari halaman Rumah Dinas Walikota. 

Padahal pada masa lalu Cilegon memiliki dua buah alun-alun, karena pada masa itu Cilegon selain menjadi pusat pemerintahan tingkat kawedanaan, ia juga menjadi pusat pemerintahan afdelingen. Sampai pada pertengahan tahun 1970 an, kedua alun-alun yang ada di Cilegon masih dipergunakan untuk latihan dan tanding sepak bola selain sebagai fasilitas umum karena merupakan tempat terbuka hijau.

Akan tetapi pada masa itu gedung kepatihan yang merupakan bekas pusat pemerintahan afdeling Anyar sudah runtuh, bahkan puing-puingnya pun sudah sirna. Dengan demikian sangat wajar jika generasi sekarang tidak pernah mengetahui jika di Cilegon juga pernah ada gedung Kepatihan. Bahkan generasi sekarang menduga jika peristiwa Geger Cilegon itu terjadinya di bekas gedung kawedanaan atau Rumah Dinas. 

Padahal yang menjadi sasaran penyerangan pada masa itu adalah gedung kepatihan yang lokasinya berada disekitar toko Sarinas Jaya. Atau tepatnya jika kita melakukan perjalanan dari mesjid agung (lewat Islamic Center) menuju ke stasiun kereta api, kemudian belok kiri menuju ke SMP N 1 Cilegon, dan belok kiri lagi memutar ke mesjid agung. Dimana luas tanah yang kita kelilingi itulah apa yang disebut dengan lokasi bekas pusat pemerintahan afdeling Anyar. 

Semoga dengan ditulisnya kisah sejarah ini akan memberikan informasi sehingga generasi yang hidup di Cilegon dimasa sekarang ini dapat mengetahui sejarah dimasa silam. Amin..

Penulis : Bambang Irawan

Post a Comment

 
Top