close


NC, Sejarah - Bercerita tentang Geger Cilegon tentu tidak dapat dipisahkan dengan nama Kiyai Haji Tubagus Ismail, seorang anggota tarekat Kadiriah dan merupakan murid terkemuka dari Haji Abdul Karim.

Haji Abdul Karim adalah ulama besar dan orang suci yang sangat berpengaruh dimata rakyat bahkan disegani oleh para pejabat. Melalui ajaran tarekatnya, beliau mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintahan Belanda yang dianggap kafir. 

Namun sekalipun begitu, Haji Abdul Karim tidak pernah mewujudkan gagasannya, akan tetapi semangat jihad fisabilillah yang selalu disampaikan lewat khutbah-khutbahnya itu kemudian dilanjutkan oleh para murid-muridnya, salah satunya adalah Kiyai Haji Tubagus Ismail. 

Ketika Kiyai Haji Tubagus Ismail kembali dari tanah suci, setelah beberapa tahun dirinya bermukim disana, ia mendirikan pondok pesantren ditempat kelahirannya, Gulacir. Dari sanalah ia mulai menggelorakan semangat perjuangan melawan penguasa Belanda. 

Untuk merealisasikan maksudnya itu Kiyai Haji Tubagus Ismail menggandeng para kiyai dari berbagai daerah di Banten, termasuk yang berada di Cilegon, yaitu Haji Wasid dari Beji, Haji Usman dari Tunggak,  Haji Iskak dari Saneja dan Haji Mahmud dari Terate Udik.

Gagasan itu pun mendapat dukungan dari para kiyai terkenal pada masa itu, diantaranya adalah Haji Abubakar dari Pontang, Haji Singadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lempuyang dan Haji Mohamad Asik dari Bendung. 

Dalam sebuah musyawarah yang dilakukan oleh para kiyai tersebut disepakati bahwa Kiyai Haji Tubagus Ismail akan dinobatkan sebagai raja jika upaya merebut kemerdekaan dari Belanda itu berhasil. Dan pada kesempatan itu pula Haji Wasid ditunjuk sebagai patihnya. 

Namun nampaknya manusia boleh punya rencana tapi Tuhanlah yang menentukan segala-galanya. Sekalipun gerakan perebutan kekuasaan dari pihak penjajah itu berjalan lancar, namun sayangnya keberhasilan itu tidak berlangsung lama, karena bala bantuan tentara Belanda dari Batavia telah berhasil mengatasi kerusuhan yang sedang terjadi di Cilegon kala itu. 

Mempertahankan kemerdekaan memang lebih sulit ketimbang merebutnya. Oleh karena kurangnya kesiapan dari para pemberontak untuk mengorganisasikan gerakan tersebut akhirnya kemenangan itu dapat direbut kembali oleh pihak penjajah. Sehingga kekuasaan yang sudah diletakan dipundak Kiyai Haji Tubagus Ismail dan Haji Wasid itu pun akhirnya harus rela kehilangan tahtanya. 

Tulisan ini sengaja diangkat oleh penulis dengan harapan dapat memberikan pencerahan serta kesadaran kepada kita sekalian. Bahwa kemerdekaan yang telah direbut dari pihak penjajah harus diisi dengan sikap dewasa dan penuh tanggung jawab agar bangsa ini tidak semakin tertinggal jauh oleh bangsa-bangsa lain. Amin.....

Penulis : Bambang Irawan

Post a Comment

 
Top