close


NC, Sejarah - Tan Keng Hok adalah salah seorang tionghoa yang namanya tercatat dalam data sejarah dari sebuah peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dimana kejadian itu merupakan peristiwa pembantaian para pejabat pemerintah dan merupakan satu-satunya tragedi berdarah yang pernah ada selama bangsa Eropa bercokol dan berkuasa di bumi nusantara. 

Bahkan jika dicermati, kejadian itu adalah merupakan satu-satunya peristiwa pemberontakan yang pernah ada sepanjang sejarah penjajahan Belanda berlangsung terhadap bangsa Indonesia. Karena sebelumnya tidak pernah terjadi pemberontakan sehingga pihak Belanda menjadi lengah dan tidak menyangka akan terjadi gerakan semacam itu.

Oleh karenanya pada saat rumah salah seorang pejabat Belanda digedor-gedor, penghuni rumah tidak menyangka jika pada waktu itu sedang terjadi pemberontakan. Karena ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, Johan Hendrik Francois Dumas pun membuka pintu rumahnya, dan seketika itu pula para pemberontak menyerang dirinya dengan kelewang. 

Namun karena suasana dalam keadaan gelap, maka Dumas, yang menjabat sebagai juru tulis di kantor asisten residen itu pun dapat menyelamatkan diri  ke rumah tetangganya. Dalam keadaan terluka Dumas berlari ke rumah jaksa, Mas Sastradiwirja, yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumahnya. Sementara itu anak dan istrinya pun menyelamatkan diri dengan bersembunyi di rumah ajun kolektor, Raden Purwadiningrat, yang letak rumahnya bersebelahan.

Pada malam menjelang dini hari itu sekelompok pemberontak yang dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail mendatangi rumah Dumas. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama karena kelompok pemberontak itu kemudian kembali ke posnya, guna persipan penyerangan pada pagi harinya, sebagaimana yang sudah direncanakan sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Juli 1888 yang kemudian dikenal dengan peristiwa Geger Cilegon. 

Dan disaat penyerangan dipagi harinya itulah Dumas berusaha menyelamatkan diri. Tapi malang nasibnya, para pemberontak melihat Dumas berlari keluar dari rumah jaksa, kemudian mereka mengejarnya, lalu Dumas masuk ke rumah yang sekaligus menjadi toko milik Tan Keng Hok. Rumah itu posisinya (sekarang) berada di belakang gedung Matahari Lama, tidak jauh letaknya dari ruas jalan yang menuju ke arah Bojonegara. Dan di rumah itulah akhirnya nyawa Dumas melayang, setelah sebutir peluru dilepaskan dari pistol yang berada ditangan pimpinan pemberontak. 

Dalam kesempatan ini saya (penulis) ingin mengangkat serta memperkenalkan kembali tempat-tempat bersejarah yang ada di Cilegon, khususnya yang berkaitan dengan peristiwa Geger Cilegon. Dari lokasi yang telah dibahas diatas bahwa hanya rumah Tan Keng Hok yang masih merupakan bangunan lama, atau belum direnovasi secara total. Kalau ketiga rumah pejabat Belanda yang lokasinya berada di jalan RA. Kartini, Jombang Wetan, semuanya sudah dibongkar dan diganti dengan bangunan baru. 

Bekas rumah juru tulis Dumas letaknya tepat disebelah toko Sarinande, sedangkan rumah tinggal ajun kolektor sekarang menjadi apotek Labora, dan bekas rumah jaksa menjadi Hotel Cilegon. Dengan ditulisnya kisah sejarah ini diharapkan masyarakat Cilegon akan mengetahui tempat-tempat bersejarah sekalipun semua tempat itu kondisinya sudah tidak lagi seperti sedia kala. 

Bagaimana pun peristiwa sejarah adalah merupakan kekayaan yang tidak ternilai yang dimiliki oleh suatu bangsa. Karena sejarah adalah cacatan masa lalu yang dapat dijadikan sebagai cermin dalam menapaki masa yang akan datang. Suatu bangsa yang melupakan sejarahnya ia akan menjadi generasi yang gamang dalam menyongsong masa depan.

Penulis : Bambang Irawan

Post a Comment

 
Top