NC, Sejarah - Rasa penasaran telah memaksa saya (penulis) untuk berangkat ke Rangkasbitung. Adapun tempat yang dituju adalah Kampung Sawah, yang tepatnya berada di kelurahan Ciujung Barat, kecamatan Rangkasbitung, kabupaten Lebak.
Begitu kereta yang saya naiki dari Cilegon tiba di stasiun Rangkasbitung, saya langsung keluar dan mencari becak. Pada saat saya minta diantar ke Kampung Sawah, Si mamang becak itu Bertanya kepada saya.
"Ke jalan Haji Wasid ya pak", Tanya si mamang becak spontan ketika saya menaki becanya.
Mendengar nama jalan Ki Wasid disebut, dapat disimpulkan bahwa nama Ki Wasid sudah demikian familiar digunakan sebagai nama jalan dari salah satu ruas jalan di Rangkasbitung. Padahal Ki Wasid tidak berasal dari daerah tersebut. Namun popularitasnya sebagai salah seorang tokoh gerakan perlawanan terhadap pemerintah Belanda hal ini cukup dimaklumi.
Diabadikannya menjadi nama jalan adalah merupakan sebuah pengakuan dan sekaligus penghormatan atas kiprahnya yang dianggap cukup penting bagi sebuah perjuangan. Akan tetapi mungkin diantara kita masih ada yang belum mengenal siapa Ki Wasid.
Ki Wasid adalah seorang pimpinan pemberontak dimasa pemerintahan kolonial Belanda, yang melakukan perlawanan pada tahun 1888. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan Geger Cilegon itu sebenarnya adalah gerakan perlawanan rakyat Banten. Dan dalam peristiwa itu Ki Wasid pun turut serta dalam kegiatan-kegiatan propaganda dari gerakan jihad tersebut.
Ia juga meluaskan kegiatan propagandanya sampai ke luar Banten, yaitu Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung dan Cirebon, dimana ia mendapatkan sambutan yang antusias. Kiyai Ape dari Dayeuh Kolot berjanji akan pergi ke Banten untuk mengerahkan sukarelawannya.
Dalam satu kesempatan Ki Wasid berjiarah ke makam Sunan Gunung Jati, yang merupakan tradisi dan bagian dari ritual yang sangat penting yang ada kaitannya dengan pekerjaan-pekerjaan yang hendak dilakukan. Setelah berkeliling kurang lebih selama dua bulan, ia kembali ke Beji. Kemudian melanjutkan pertemuan-pertemuan dengan Haji Marjuki dan Haji Tubagus Ismail.
Biasanya pertemuan dilakukan dengan berkedok ritual keagamaan, yaitu "maleman". Dalam kesempatan itulah mereka bertemu untuk membicarakan perkembangan dan langkah-langkah dalam menentukan gerakan. Pertemuan rahasia yang berkedok "maleman" itu pertama kali dilakukan di rumah Haji Marjuki, yang kedua di rumah Haji Akhmad dan yang ketiga dilaksanakan di Bendung, Lempuyang, di rumah Haji Asnawi.
Dan selanjutnya pertemuan dilaksanakan di wilayah Cilegon, termasuk di rumah Ki Wasid di Beji. Bahkan pematangan gerakan penyerangan dilaksanakan di Jombang Wetan, di rumah Haji Akhiya dan di Saneja di rumah Haji Iskak. Semoga nama-nama para kiyai lainnya yang tergabung dalam gerakan perlawanan ini akan diabadikan pula sebagai nama-nama jalan yang ada di propinsi Banten. Amin..
Penulis : Bambang Irawan


Post a Comment