close


NC, Sejarah - Jika di era sekarang para perampok uang rakyat bikin pusing KPK, tapi pada masa pemerintahan Belanda dulu, di Banten ada seorang perampok yang bikin pusing pemerintah pusat di Batavia. 

Kisah tentang rampok Sakam ini memang yang paling populer sepanjang sejarah perbanditan di era pemerintahan kolonial Belanda. Karena ia selalu berkeliaran bebas melakukan kejahatan dan tak ada yang bisa menangkapnya. 

Sebab selain ia memiliki ilmu kebal, dirinya juga ternyata kebal hukum sehingga wajar kalau ia selalu lolos dari jerat hukum. Tapi secara kebetulan, tidak lama setelah Sakam tewas dalam suatu pengejaran dan pertarungan, kemudian meletuslah sebuah kerusuhan besar yang kemudian dikenal dengan sebutan Geger Cilegon 1888.

Meletusnya peristiwa Geger Cilegon ini memang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemunculan seorang petani muda yang sering membuat onar dan kegaduhan. Dia adalah Sakam, seorang perampok kelas wahid yang telah membuat pemerintah pusat memeras otak untuk menangkapnya. 

Tapi untuk menggambarkan situasi mengapa kesultanan Banten harus dihapuskan oleh pemerintah kolonial pada masa itu, saya sengaja mengaitkannya. Dihapuskannya keberadaan kesultanan Banten oleh pemerintah kolonial karena Banten dianggap sebagai wilayah yang rakyatnya susah diatur.

Dari generasi ke generasi selalu terjadi pemberontakan dan kerusuhan. Dan untuk memperlemah perlawanan rakyat Banten itu maka kesultanannya diberangus. Dengan keadaan seperti ini pemerintah Belanda menganggap bahwa sultan Banten tidak mampu mengendalikan keamanan di wilayahnya. 

Karena sultan Banten dianggap tidak mampu membuat rakyatnya dalam suasana aman seperti di wilayah lainnya, maka kesultanan pun dihapuskan dari struktur pemerintahan kolonial Belanda.

Dengan demikian rakyat Banten berada didalam pengawasan langsung pejabat Belanda. Tidak lagi berada dibawah pengawasan sultan atau raja seperti yang lainnya. Sebab pada masa itu, sultan maupun raja adalah merupakan kepanjangan tangan pejabat Belanda. 

Oleh karenanya kesultanan atau kerajaan yang lainnya tetap dipertahankan dan masuk kedalam struktur pemerintahan Belanda. Kecuali kesultanan Banten, bahkan sultannya pun diasingkan ke Surabaya karena waktu itu dianggap telah bersekongkol dengan para bajak laut. 

Jika dilihat dari modusnya, Sakam tidak jauh berbeda dengan para perampok uang rakyat dimasa sekarang ini. Ia sulit ditangkap karena tidak ada masyarakat yang mau melaporkannya kepada yang berwajib, disamping itu ia juga lihay merekayasa tindak kejahatannya. 

Namun sepandai-pandai tupai melompat, adakalanya ia jatuh ke tanah. Begitu pun Sakam,  setelah sukses menjalani rekayasa kasusnya, akhirnya tiba juga hari naasnya. Pada saat Gubernur Jendral mengeluarkan perintah untuk menangkap Sakam, kemudian ada orang yang ditangkap dan dipaksa mengaku sebagai Sakam. 

Karena Sakam terus menerus melakukan kerusuhan dan perampokan, akhirnya Bupati Serang pun terpaksa turun tangan memimpin pencarian dan penangkapan Sakam. Akhirnya ditangan Jaksa Serang, Mas Jaya Atmadja, Sakam pun akhirnya menemui ajalnya setelah bertarung dengan Jaksa Serang tersebut.

Kisah kematian Sakam telah membuat para pejabat pemerintah di Banten merasa sangat lega, sekali pun banyak orang yang meragukan kematian Sakam karena selama bertahun-tahun ia hidup sebagai bandit dan sebagai orang yang dinyatakan diluar hukum, Ia dianggap mempunyai kesaktian dan menjadi perbincangan ditengah masyarakat dengan cerita kehebohannya.

Setelah 75 tahun berlalu sejak dihapuskannya kesultanan Banten, timbulah kerinduan rakyat Banten untuk memiliki kembali pemimpinnya. Dan dengan dipimpin oleh para kiyai akhirnya terjadilah perebutan kekuasaan dengan penjajah Belanda pada tanggal 9 Juli 1888, yang lebih dikenal dengan peristiwa Geger Cilegon 1888.

Dari catatan sejarah ini kita bisa belajar, bahwa tidak selamanya tindak kejahatan ekstra ordinary seperti korupsi itu bisa seluruhnya lolos dari jerat hukum. Jika badan lagi apes, uang yang sedikit terkadang bisa saja mengantarkannya ke pintu penjara, untuk mempertanggung-jawabkan segala perbuatan dan kekhilafan yang dilakukan ketika kekuasaan berada ditangannya.

Penulis : Bambang Irawan

Post a Comment

 
Top