close


NC, Cilegon - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Cilegon, Heni Anita Susila mengungkapkan berbagai faktor yang menjadi kendala terhambatnya program Keluarga Berencana (KB) di Kota Cilegon. 

"Faktor sarana dan infrastruktur, ekonomi, sosial dan budaya kerap menjadi kendala jalannya program Keluarga Berencana (KB) di Kota Cilegon," ujar Heni usai gelaran pelatihan konseling KB bagi pengelola KB se-Kota Cilegon, Senin (19/3). 

Pembangunan infrastruktur yang belum merata disebut menjadi salah satu faktor penentu terciptanya kampung KB di Cilegon. "Iya betul. Kalau yang di Merak (Tamansari) itu daerah pinggiran dan terus terang saja itu masuknya permukiman kumuh. Dan itu dintunjuknya kampung KB indikatornya adalah itu yang memenuhi prasyarat," katanya. 

Heni menjelaskan dari sembilan wilayah yang telah ditetapkan sebagai kampung KB dua diantaranya merupakan wilayah yang tingkat kesadaran ber KBnya terendah. "Yang paling kurang itu di Pulomerak, Kampung Sawah, Kelurahan Tamansari dan di Cibeber, Cikerai. Aseptor KBnya kurang. Dan partisipasi masyarakat untuk KB nya kurang," katanya.  

Heni mengaku dari pelatihan yang digelar ini diharapkan para kader KB yang tersebar di 43 kelurahan di Kota Cilegon dapat mengajak calon aseptor KB untuk berpartisipasi mendukung program pemerintah dalam dua anak lebih baik. "Kb suntik yang paling disukai, jangka pendek. Padahal kita inginnya KB yang jangka panjang seperti implan atau KB IUD," pungkasnya. (RAS)

Post a Comment

 
Top