close


NC, Sejarah - Pada tulisan yang sebelumnya telah dijelaskan setidaknya ada dua poin penting yang perlu digaris bawahi dari peristiwa ini. Yang pertama bahwa peristiwa ini adalah sebuah kejadian yang mempunyai catatan sejarah paling lengkap, detil dan akurat dibandingkan dengan peristiwa peperangan lainnya selama bangsa ini berada dibawah kekuasan kaum penjajah.

Yang kedua, bahwa gerakan perlawanan yang dipimpin oleh para kiyai dari beberapa daerah yang ada di Banten ini adalah merupakan satu-satunya peristiwa perlawanan terbesar sepanjang sejarah pemerintahan Hindia Belanda selama berkuasa di bumi nusantara.

Terjadinya peristiwa ini tidak dapat dipisahkan dari akibat dihapuskannya kesultanan Banten oleh kaum penjajahan.

Pada tahun 1808, Herman Willem Daendels yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal, menghancurkan benteng dan membakar istana Surosowan.

Dan untuk memperlemah kekuatan rakyat Banten sekaligus untuk mempermudah pengawasannya, kemudian Banten dipersempit dibagi kedalam tiga wilayah afdeling, yaitu Banten Hulu, Banten Hilir dan afdeling Anyar, yang ibu kotanya di Cilegon.

Dalam struktur pemerintahan kolonial Belanda, Banten merupakan sebuah wilayah karesidenan yang dipimpin oleh seorang residen dan membawahi tiga wilayah afdeling, yang masing-masing dikepalai oleh Asisten Residen. Dan asisten residen yang paling terkenal adalah Johan Henry Hubert Gubbels, karena pada masa jabatan Gubbels itulah meletus gerakan perlawanan rakyat Banten yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888.

Dan ketika Inggris merebut wilayah jajahan Belanda, dalam hal ini pulau Jawa, kemudian pada tahun 1813, Thomas Stamford Rafles memaksa sultan Banten (Sultan Muhammad Syafiudin) turun tahta dan menyerahkan wilayah kekuasaannya ke kerajaan Inggris.

Sejak saat itu rakyat Banten tak ubahnya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Mereka merasa tak lagi mempunyai pemimpin, sehingga segala aspirasinya bergantung kepada tokoh agama, yaitu para ulama dan kiyai. Kemudian setelah lebih dari setengah abad berlalu, timbulah kerinduan dari rakyat Banten untuk memiliki kembali pemimpinnya seperti ketika masih berada dibawah kekuasaan kesultanan Banten.

Pada tahun 1872 kiyai Haji Abdul Karim kembali ke kampung halamannya di Lempuyang setelah sekian lama memperdalam ilmu agama dan bermukim di tanah suci. Khotbah-khotbah beliau, khususnya tentang jihad telah membangkitkan semangat keagamaan dan telah membangkitkan kesadaran yang kuat bagi rakyat Banten bahwa negeri mereka harus dianggap sebagai sebuah dar al-Islam yang untuk sementara diperintah oleh orang-orang asing, dan yang pada suatu ketika kelak harus direbut kembali.

Namun sebelum cita-citanya sempat diwujudkan, beliau harus kembali ke Mekah untuk mengemban sebuah tugas. Pada tahun 1876 Haji Abdul Karim harus berangkat kembali karena ia telah diangkat untuk menggantikan Khatib Sambas, pemimpin tarekat Kadariyah

Haji Abdul Karim memang tidak ikut turun ke medan perang dalam peristiwa ini, bahkan ketika akan berangkat kembali ke Mekah beliau memberitahukan kepada murid-muridnya yang paling dekat bahwa dirinya tidak bermaksud kembali ke Banten selama daerah itu masih terbelenggu dibawah dominasi asing, dan itu terbukti ia tidak pernah kembali sampai akhir hayatnya. Namun sekalipun begitu semangat jihad yang telah digelorakannya tidak pernah pudar, bahkan telah membuat murid-muridnya semakin bulat untuk mewujudkan sebuah negara Islam di Banten. Murid-murid Haji Abdul Karim yang terkemuka antara lain adalah Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung Lampuyang, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji Marjuki dari Tanara. Mereka lah yang kemudian tampil menjadi pemimpin dan penggerak peristiwa perlawanan terdahsyat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, yang kemudian sekarang peristiwa itu lebih dikenal dengan istilah Geger Cilegon 1888.
(Bersambung)

Ditulis oleh : Bambang Irawan.
(Spesialis Peneliti Sejarah Geger Cilegon 1888).

Post a Comment

 
Top