NC, Sejarah - Pada tulisan yang lalu saya sempat mengulas tentang misteri kematian Haji Akhya, yang dijatuhi hukuman gantung oleh pihak pemerintah kolonial Belanda. Sebenarnya pembahasan masalah itu sudah melenceng dari judul diatas, karena memang tidak termasuk dalam analisa serta prediksi yang memperkuat alasan dari penyebab runtuhnya gedung Kepatihan Cilegon.
Akan tetapi hal itu juga perlu disampaikan sebagai pelengkap informasi, bahwa lenyapnya gedung yang menjadi pusat pemerintahan afdeling Anyar itu diyakini ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada tangga 9 Juli 1888, yang berujung pada penangkapan para kiyai. Salah satunya adalah Haji Akhya yang dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung, di sebuah tempat yang lokasinya tidak begitu jauh dari pusat pemerintahan, dan sekarang tempat itu dikenal dengan nama Pegantungan.
Dalam peristiwa itu 11 orang dijatuhi hukuman gantung yang kemudian dimakamkan ditempat itu pula. Sekarang tempat itu menjadi tempat pemakaman umum, dan masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama makam Kiyai Pegantungan. Dari data-data sejarah yang saya dapatkan, sosok Haji Akhya, dalam peristiwa perlawanan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda ini sangat menarik untuk dicermati, mengapa demikian....?
Peristiwa yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Geger Cilegon 1888 ini, bukanlah sebuah gerakan yang muncul secara tiba-tiba dan spontanitas. Akan tetapi sebuah gerakan perlawanan yang telah direncanakan dengan sangat matang. Namun sehebat-hebatnya suatu rencana (terkadang) ada juga kegagalannya, demikian juga seperti yang terjadi dengan gerakan perjuangan yang dipimpin oleh para kiyai ini.
Gedung kepatihan Cilegon pada waktu itu merupakan salah satu tempat yang menjadi target penyerangan, sebagaimana yang telah ditentukan dalam sebuah pertemuan di rumah Haji Akhya, di jombang Wetan. Pada musyawarah itu ditentukan tiga titik sasaran yang akan diserang; gedung Kepatihan, penjara dan rumah Asisten Residen, Gubbels. Namun justru dihari yang naas itu, mereka yang akan dihabisi malah mencari perlindungan di gedung Kepatihan, termasuk Asisten Residen Gubbels sendiri.
Dua hari sebelum peristiwa itu meletus, Gubbels sedang mengikuti Residen Banten yang sedang melakukan inspeksi ke wilayah Anyer dan sekitarnya, bersama-sama dengan Kontrolir Muda, Van Rinsum.Kemudian ketika mendengar bahwa Cilegon sudah direbut dan diduduki oleh para pejuang, dirinya bergegas kembali ke Cilegon untuk menyelamatkan anak-anak dan istrinya. Namun ada yang menarik untuk diamati, pada saat informasi tentang apa yang sedang terjadi di Cilegon; Gubbels kembali ke Cilegon namun Residen dan Kontrolir Muda justru tetap melanjutkan perjalanannya ke Caringin.
Nampaknya mereka tidak diberi "rerasan" kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Padahal, disalah satu wilayah kekuasaannya, Cilegon saat itu sedang terjadi kekacauan, bahkan sedang keos. Namun gerangan apa yang telah membuat mereka seperti tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi. Mengapa para pejabat pemerintah kolonial Belanda itu sampai tidak mengetahui jika di wilayahnya itu tengah terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh para pejuang dibawah pimpinan para kiyai dari seantero Banten.
(Bersambung)
Penulis : Bambang Irawan.


Post a Comment