close

NC, Sejarah -Pada bagian sebelumnya telah diceritakan tentang bagaimana situasi yang terjadi di wilayah Serang dan sekitarnya pada tanggal 9 Juli 1888 itu. Dimana para pejuang yang terdiri dari beberapa kelompok pasukan yang dipimpin masing-masing oleh para kiyai, pada saat itu sudah dalam keadaan siaga penuh dan siap tempur. 

Namun (karena) sesuai dengan apa yang telah disepakati sebelumnya, bahwa perintah penyerangan harus menunggu aba-aba dari kedua pimpinan tertinggi, yaitu kiayi Haji Tubagus Ismail dan Haji Wasid, oleh karenanya sekalipun mereka sudah stand by di posnya masing-masing maka serangan umum belum bisa dilaksanakan. 

Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Cilegon sudah direbut dan dikuasai oleh kelompok pasukan yang berasal dari beberapa wilayah yang ada di Cilegon dan sekitarnya.

Pada minggu yang lalu sekilas telah dijelaskan nama-nama pemimpin pasukan yang disiagakan di wilayah Serang dan sekitarnya, serta dari wilayah mana saja mereka berasal. Maka untuk memberikan gambaran seperti apa situasi di Banten (wilayah karesidenan Banten) pada saat itu, saya akan menjelaskan situasi di Cilegon pada hari yang sama. 

Pada malam sebelumnya, Kiyai Haji Tubagus Ismail memimpin pasukannya yang berasal dari Arjawinangun, Gulacir dan Cibeber kemudian mereka berkumpul di Saneja, di rumah Haji Iskak. Dan pada pagi harinya, tanggal 9 Juli, dengan dibantu oleh pasukan yang berasal dari Saneja dan desa-desa sekitarnya, mereka bergerak menuju gardu yang berada di pasar Jombang Wetan. 

Untuk memberikan gambaran kekuatan pasukan yang ada di Cilegon pada saat itu saya itu, maka kelompok pasukan yang dipimpin oleh kiyai Haji Tubagus Ismail itu saya sebut kelompok pasukan dari Cilegon bagian Selatan. Dengan dibantu oleh Haji Usman (Arjawinangun), kelompok pasukan dari Selatan itu berkumpul di satu titik sebagaimana yang telah direncanakan. 

Mereka harus menunggu kelompok pasukan yang dari Utara, untuk bergerak bersama-sama menyerang tempat-tempat yang telah ditentukan. Para pejuang itu menutup sebagian mukanya dengan kain putih dan ikat kepala berwarna putih pula sebagai tanda; mereka datang dari berbagai jurusan. 

Tidak lama kemudian,  sepasukan pejuang dengan jumlah yang besar muncul dari arah Bojonegara. Mereka dipimpin oleh Haji Wasid, Kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdulgani dari Beji dan Haji Nasiman dari Kaligandu, mereka bergerak bergabung dengan pasukan dari Selatan sambil meneriakan pekik Sabilillah. 

Pada bagian ini saya ingin menekankan pada sebuah situasi, bagaimana hiruk pikuk mereka dapat luput dari perhatian pihak Belanda; yang kemudian terlambat mengantisipasi sehingga pusat pemerintahan afdeling Anyer, di Cilegon dapat direbut dan dikuasai. Padahal ketika kiyai Haji Tubagus Ismail memberikan perintah untuk memulai serangan, pada waktu itu disambut oleh para pejuang dengan semangat yang berkobar-kobar, serta genderang perang yang ditabuh mulai bergemuruh dan terdengar sampai disetiap kampung yang ada di Cilegon dan sekitarnya. Namun menarik untuk diikuti ketika jajaran pejabat pemerintahan kolonial Belanda pada waktu itu malah lengah dan kecolongan. 
(Bersambung) 

Ditulis : Bambang Irawan.

Post a Comment

 
Top