NC, Sejarah - Untuk mengetahui lokasi dimana dikuburkannya mereka yang menjadi korban dalam peristiwa Geger Cilegon 1888, saya menelusuri sebuah makam yang berada di Jombang Wetan, yang dikenal dengan nama Makam Tumenggung.
Jika dilihat dari namanya, kuburan itu bisa dipastikan bahwa disana pernah dimakamkan seorang Tumenggung, pada masa kesultanan, Tumenggung adalah pembesar dalam jabatan birokrasi, sedangkan dimasa pemerintahan kolonial Belanda merupakan gelar yang diberikan kepada Bupati.
Sesuai dengan informasi sejarah, serta berdasarkan sebuah kesimpulan, bahwa di makam Tumenggung itulah orang-orang yang pernah menjadi korban dalam peristiwa berdarah dimakamkan.
Tidak mudah memang untuk menentukan dimana lokasi pastinya, dan satu-satunya cara adalah dengan memperkirakan lokasi kuburan mana sajakah yang dianggap paling tua umurnya.
Sebagaimana biasanya, saya ditemani oleh seorang teman, yang memiliki mata cukup jeli untuk meneliti batu nisan berdasarkan tulisan serta bahannya. Seperti juga ketika kami berada ditempat-tempat pemakaman lainnya dengan tujuan yang sama,mencari jejak sejarah lewat batu nisan, saya selalu didampingi olehnya.
Namun untuk kali ini saya merasakan ada suatu aura yang berbeda. Seperti ada sebuah energi yang mendorong langkah kaki kami pada sebuah titik.
Lokasinya didekat sebuah makam yang dianggap paling tua disana. Dimana makam itu setiap tahunnya selalu ramai dijiarahi bila lebaran tiba.
Konon masyarakat sekitar menyebutnya makam buyut Alpian. Dalam data sejarah, memang terdapat nama Haji Alpian. Akan tetapi saya belum dapat memastikan apakah ini makam Haji Alpian yang disebut dalam sebuah catatan sejarah dan merupakan salah seorang utusan Ki Wasid.
Yang mana Haji Alpian dan Haji Mahmud diutus menemui Haji Abdulrajak di Tanara, untuk menyampaikan pesan bahwa tanggal 9 Juli 1888 adalah hari yang telah ditentukan. Pada saat itu mereka juga mendapat sambutan yang sangat antusias di Tirtayasa, dimana kiyai Muranggi menyatakan siap dalam untuk bertempur.
Sementara itu di Bantarjati (Bogor), sebuah pasukan kecil yang terdiri dari 14 orang telah siap menantikan perintah penyerangan ke kota Serang.
Tidak seperti biasanya, ketika mengadakan penelusuran, kali ini saya merasakan ngantuk yang teramat sangat.
Bahkan pandangan menjadi kabur ketika mencoba membaca catatan dari nama-nama yang gugur di Desa Sumur, Pandeglang. Pada pertempuran yang cukup dahsyat itu para pejuang semuanya dinyatakan gugur, walau tidak sedikit dari pihak pasukan Belanda juga yang jadi korban, baik meninggal mau pun luka-luka.
Pada tanggal 30 Juli 1888, pasukan Belanda membawa 11 mayat para syuhada itu ke Cilegon untuk diidentifikasi dan dimakamkan, termasuk para pimpinan pasukan, yaitu Haji Wasid, Kiyai Haji Tubagus Ismail, Haji Abdulgani dan Haji Usman.
Pada saat itu yang mendapat tugas untuk mengurusi serta menguburkan jenazah para korban peristiwa Geger Cilegon itu adalah warga Jombang Wetan, yang secara kebetulan mempunyai lahan pemakaman sendiri, yaitu makam Tumenggung.
Di areal makam itu rekan saya terlihat tampak asik menelisik satu persatu batu nisan yang ada, sebaliknya saya merasakan ngantuk yang makin menjadi-jadi. Tiba-tiba angin terasa bertiup sangat kencang serta menjatuhkan daun-daun kering dari ranting pohon-pohon besar yang tumbuh disana. Dalam suasana yang tampak kabur, terlihat 4 orang memakai sorban dan mengenakan jubah panjang. Mereka berjalan beriringan dan menghilang dibalik pohon besar.
Ketika saya tersadar, kertas catatan yang semula saya pegang telah berserakan bak tertiup angin. Kertas-kertas itu satu per satu saya pungut, sementara rekan saya masih terlihat asik dengan posisi tak berbeda seperti sedia kala. Nampakny ia tidak merasakan apa-apa dan tidak pula melihat apa-apa, selain mencermati batu-batu nisan yang tampak berjejeran di areal pemakaman yang menyimpan sejuta misteri dan tanda tanya.
Di pemakaman inilah dikuburkan jasad-jasad para pejuang yang gugur dalam sebuah pertempuran melawan penjajahan Belanda. Juga ditempat ini pula mereka terkubur dan terlupakan sebagaimana peristiwa sejarahnya sendiri. Padahal peristiwa itu adalah satu-satunya gerakan perjuangan mengusir penjajahan, yang direncanakan secara matang serta terorganisir, dan yang pertama kali dilakukan sepanjang sejarah pemerintahan kolonial Belanda bercokol di nusantara! Subhanallah...!
Ditulis Oleh : Bambang Irawan.


Post a Comment