close


NC, Sejarah - Pada bagian ketiga telah dijelaskan, mengapa dari peristiwa Pemberontakan Petani Banten dapat berubah atau kemudian lebih dikenal dengan istilah Geger Cilegon 1888. Judul dalam sebuah peristiwa itu pada umumnya menggambarkan kondisi tentang peristiwa itu sendiri; tentang ruang lingkup dan latar belakangnya bahkan bobotnya.

Tentu saja dengan peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888, yang akhirnya dikenal dengan Geger Cilegon itu pun tidak bisa dipungkiri bahwa telah mengalami pergeseran makna pada ruang lingkup serta latar belakangnya.

Dalam kesempatan ini saya coba mengangkat sepenggal kejadian yang merupakan informasi sejarah serta dianggap cukup untuk membangun sebuah imajinasi agar mendapatkan gambaran, seperti apa keadaannya serta sejauh mana ruang lingkup dari gerakan perjuangan yang dipimpin oleh para kiyai pada masa itu.

Pada waktu itu, di hari Senin tanggal 9 Juli 1888 kelompok-kelompok para pejuang yang berada di distrik Serang dan daerah-daerah sekitarnya, mereka semua berkumpul di Bendung, Trumbu, Kubang, Kaloran dan Keganteran; pasukan pertama dipimpin oleh Haji Muhammad Asik, pasukan kedua dipimpin dipimpin bersama oleh Haji Muhamad Kanapiah dan Haji Muhidin, pasukan ketiga dipimpin oleh Katab, seorang pedagang tembakau dan pasukan keempat dipimpin oleh Raim, seorang bekas kepala desa Kaujon, Serang.

Adapun pasukan ketiga dan keempat sebagaimana dijelaskan tadi, mereka berada dibawah komando Mas Haji Mohamad Singadeli, seorang kiyai yang cukup disegani pada masa itu dan berdomisili di Kaloran, sementara itu pasukan yang terakhir dipimpin oleh Haji Abubakar dari Keganteran.

Tulisan berlatar belakang sejarah ini sengaja saya tulis dengan bahasa yang sederhana serta dibuat ringkas pada setiap penerbitan, dan hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan rasa jenuh serta bosan. Adapun ditulisnya kisah sejarah dengan cara bertahap seperti ini sebenarnya memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai, yaitu untuk memperkenalkan nama-nama dari orang yang terlibat didalam peristiwa itu, baik para pemimpinnya maupun para pengikutnya.

Oleh karenanya setiap terbitan pada tulisan ini akan selalu memunculkan nama-nama dari beberapa orang yang terlibat dalam peristiwa itu. Karena jika sekaligus semuanya disebutkan, maka yang terjadi bukan menceritakan kisah sejarahnya tetapi hanya berupa daftar nama yang mungkin tidak menarik untuk dibaca; sebab memang jumlahnya sangat banyak.

Dengan demikian diharapkan semoga pembaca akan berkenan untuk mencatat nama-nama mereka yang kisahnya diceritakan setiap minggu sehingga nama-nama para syuhada itu dapat dikenal serta dikenang oleh masyarakat Banten pada khususnya, serta bangsa Indonesia secara umum.

Para syuhada itu memang tidak pernah mati, mereka tetap hidup disisi Allah sebab mereka mendapatkan tempat yang mulia disisi Tuhannya. Namun sekalipun begitu, tidaklah sepantasnya kita melupakan jasa-jasa mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi sebuah kemerdekaan, serta membiarkan nama-nama mereka terkubur dan terlupakan begitu saja sebagaimana keadaannya selama ini.

Kita harus mengenang perjuangan mereka, paling tidak pada setiap tanggal 9 Juli kita membacakan Al-fatehah buat mereka, agar nama mereka tetap dikenang dan dihormati sehingga mereka nampak tidak terkubur sia-sia atas segala pengorbanannya.

Ditulis oleh : Bambang Irawan.
(Spesialis Peneliti Sejarah Geger Cilegon).

Post a Comment

 
Top