NC, Sejarah - Salah satu penyebab kekalahan dari perang besar yang dilakukan oleh masyarakat Banten terhadap pemerintahan kolonial Belanda, diantaranya adalah karena keterlambatan menghabisi orang nomor satu di afdeling Anyer.
Hari Senin, tanggal 9 Juli 1888 memang Cilegon sudah dapat direbut dan dikuasai. Akan tetapi, sekalipun seluruh jajaran pejabat pemerintahannya telah dibantai habis, namun Asisten Residen Gubbels masih belum dapat diketemukan.
Tentu saja hal ini telah mempengaruhi taktik dan strategi perang yang telah direncanakan dengan matang oleh para kiyai dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Sebagaimana yang telah dimusyawarahkan dan disepakati, begitu penyerangan ke Cilegon selesai, maka pada pagi itu pula seluruh pasukan akan diberangkatkan untuk menyerang Serang, yang saat itu sudah dalam posisi dikepung dari berbagai penjuru.
Namun diluar dugaan, Asisten Residen Gubbels baru bisa dilumpuhkan menjelang waktu Ashar. Dalam keadaan terluka Gubbels tiba di Cilegon, setelah dokar yang dinaikinya dapat menerobos sekerumunan para pejuang.
Dalam perjalanannya dari Anyer, didekat Kalentemu, ia bertemu dengan sekitar 30 orang pejuang, dibawah pimpinan Haji Kalipudin yang sedang berjaga dijalan antara Cilegon-Anyer.
Melihat dokar melaju kencang, mereka bergerak menepi seakan mempersilahkan dokar yang dinaiki oleh Asisten Residen dan kusirnya itu lewat. Akan tetapi begitu sudah dekat, mereka bergerak melemparkan tombak, satu tombak mengenai perut kuda dan satu buah tombak lagi menancap didada Gubbels.
Sang kusir terus memacu dokarnya dan terus berusaha untuk sampai di Cilegon. Sekitar pukul sepuluh pagi dokar memasuki alun-alun, sementara rumah Asisten Residen sudah penuh dengan kerumunan dan beberapa mayat bergeletakan.
Oleh karena Gubbels merasa tidak mungkin memasuki rumahnya, maka ia pun bergegas menuju ke Kepatihan. Dengan luka yang parah ia berlari menyelamatkan diri dan berusaha bersembunyi, seiring dengan suara tembakan yang diarahkan kepadanya. Untuk beberapa saat Gubbels dapat selamat, bahkan ia sempat merebut pistol dari dari tangan Haji Jahli, yang memimpin pengejaran itu pada saat keduanya berada di gedung kepatihan.
Rupanya karena mengetahui keluarganya sudah dibantai, Gubbels mengamuk membabi buta, sehingga para penyerang pun mundur sejenak.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, sementara luka yang dideritanya semakin parah, Gubbels terus bertahan dan menutup rapat pintu dan jendela. Ia pun hanya dapat pasrah menunggu ajal, sebab menyadari bahwa upaya untuk selamat dari kemarahan rakyat yang sedang meluap-luap itu pasti sia-sia dan hanya tinggal menunggu waktu belaka. Dan ketika ia mendengar suara tembakan yang menghancurkan kaca jendela, ia hanya terbaring tak berdaya sambil menahan rasa sakit.
Kemudian pintu pun didobrak, dan para pejuang terus merangsek masuk mencari Gubbels. Dalam keadaan lelah dan pasrah ia disergap dan dibunuh. Kemudian mayatnya diseret keluar gedung seiring dengan teriakan kemenangan yang bergemuruh. Asisten Residen, orang yang dianggap alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda telah meregang nyawa.
Barang kali inilah salah satu pejabat pemerintahan kolonial Belanda yang mengakhiri masa jabatannya dengan tragis sepanjang catatan sejarah kekuasaannya di bumi nusantara. Bukan hanya dirinya saja yang menghadap Sang Pencipta, namun istri yang bernama Anna van Zuptent dan kedua anaknya, Elly dan Dorra pun ikut dibawa serta meninggalkan dunia fana. Ternyata jabatan serta kekuasaan yang dimilikinya tak mampu menolong mereka dari sebuah malapetaka yang datang menimpanya.
(Bersambung)
Ditulis oleh Bambang Irawan


Post a Comment